by

SEJARAH: HAJI OEMAR SAID TJOKROAMINOTO (1883 – 1934)

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

HAJI OEMAR SAID TJOKROAMINOTO (1883 – 1934) adalah fenomena zaman. Terlahir untuk masanya, namun pengaruhnya lintas masa. Pesonannya tidak hanya dalam retorika, namun mengedepan dalam intelegensia. Kritis, tapi tetap objektif. Kerap menabrak tembok tata krama dan pakem-pakem aristokrasi jawa, namun tak kehilangan pegangan. Karena itu, ia menolak penghambaan kebangsawanan, kendati ia sendiri berdarah ningrat. Prakteknya, ia menjunjung tinggi kesetaraan. Dalam pendapatnya, relasi kemanusiaan mesti diikat oleh tiga unsur: kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan. Sebuah sikap yang boleh dikata “nyeleneh” di kala itu, mengingat saat itu Pemerintah Kolonial Belanda tengah gencar menjalankan politik etis dengan menomor duakan hak bangsa pribumi.

BANYAK julukan dan sanjungan dilekatkan kepadanya, tapi tak melenakannya. Boleh dikata hampir merespons semua aliran pemikiran yang berkembang saat itu, menjadikannya dinilai pluralis dan egaliter. Kepada murid dan pengikutnya, ia menerangkan dan mengajarkan pelbagai aliran pemikiran dan faham, namun tak memaksakan untuk menganut salah satunya. Dalam perjalanannya, murid-muridnya memilih jalan masing-masing melalui Nasionalisme (Soekarno), Komunisme (Semaun) dan Islamisme (SM. Kartosuwirdjo).

BACA JUGA:   Manaf: Kader Syarikat Islam Bitung Sambut Baik Poros Ketiga

sumber: facebook @syarikat.islam.125

News Feed