by

SEJARAH: H. Agus Salim, Pemimpin yang Mau Hidup Miskin

Print Friendly, PDF & Email

H. Agus Salim

Pemimpin yang Mau Hidup Miskin

Haji Agus Salim merupakan sedikit dari pemimpin bangsa yang mau hidup susah. Jika saja ia mau meneruskan pekerjaannya sebagai konsulat Belanda di Arab Saudi, mungkin Salim tak akan hidup melarat. Pada awal abad ke-20 Salim sudah beroleh gaji sangat besar, 200 gulden per bulan. Menurut budayawan Ridwan Saidi, gaji itu sangat besar untuk ukuran orang Melayu. Sebagai perbandingan, sebuah keluarga dengan satu istri dan tiga anak, saat itu dapat hidup layak hanya dengan 15 gulden per bulan. Namun Salim meninggalkan itu semua, dan memilih menjadi aktivis Sarekat Islam (SI).

Ketika menjadi aktivis SI, Salim juga menjabat sebagai pemimpin redaksi “Hindia Baroe”, koran yang dimiliki beberapa pengusaha Belanda. Melalui koran ini, ia sering mengkritik kebijakan pemerintah kolonial yang tidak pro-rakyat. Oleh para pemiliknya, Salim diminta untuk tidak terlalu keras mengkritik pemerintah. Namun permintaan itu malah dijawabnya dengan pengunduran diri. Karena ingin hidup bebas dan idealis, Salim tak mempunyai pendapatan tetap. Akibatnya ia kerap berpindah-pindah rumah, dari kontrakan satu ke kontrakan lainnya. Mohammad Roem, aktivis JIB yang sering bertandang ke rumah Salim menceritakan, bahwa rumahnya di Tanah Tinggi – Jakarta Pusat, berada di kawasan becek. Ia juga pernah tinggal di Jatinegara, yang mana keluarga Salim hanya menempati satu ruangan. Di rumah itu, Roem melihat koper-koper bertumpuk di pinggir ruang dan beberapa kasur digulung. Meski sudah menjabat sebagai menteri luar negeri, Salim dan keluarganya masih tinggal di rumah kontrakan. Terakhir ia mondok di Jalan Gereja Theresia No. 20, Menteng, tempat dimana ia menghabiskan masa tuanya.

BACA JUGA:   30 Nopember 2020 Program Salam Lentera Kebajikan Tilik Bang Sem bersama Sem Haesy Narasumber : Abdul Wahab Suneth Ketua Lajnah Tanfidziyah/PP Syarikat Islam, Ketua SC Majelis Tahkim ke 41 Syarikat Islam

Kasman Singodimedjo mengatakan “leiden is lijden” (memimpin itu menderita) untuk menggambarkan keadaan H. Agus Salim.

#HAgusSalim
#Tokohsyarikatislam
#Caturprogram

sumber: facebook @syarikat.islam.125

News Feed