by

Susno Duadji: Petani Sayur Tak Selalu Mujur

Print Friendly, PDF & Email

Lahat, Klikanggaran.com – Pagaralam adalah hamparan bentangan dataran, lembah, dan bukit di kaki Gunung Dempo. Pemandangan yang indah dengan hawa dingin itu sangat cocok untuk daerah tujuan wisata. Selain pemandangan yang sangat indah, Pagaralam yang berada di kawasan kaki Gunung Dempo tanahnya sangat subur. Apapun yang ditanam akan tumbuh dengan subur walaupun tidak dipupuk. Hal ini mendapatkan sorotan dari Susno Duadji yang merupakan, Ketua Komite Pemantau Pengawas Pertanian Indonesia, Datok Patani, Ketua Umum TP Sriwijaya sekaligus Penasehat Syarikat Dagang-Syarikat Islam, Rabu (12/10/2016).

Kesuburan tanah di kawasan kaki Gunung Dempo ini menarik minat para petani untuk menanam berbagai jenis sayuran seperti sawi, kubis, tomat, wortel, kentang, cabai, bawang, dan lain-lain. Semua tumbuh subur, menjelang panen sunggh ladang sayur petani di Pagaralam menjadi pemandangan yang sangat indah, objek pariwisata yang sangat menarik.

Pagaralam adalah sentra pobjeksi berbagai jenis sayuran untuk Sumatera Selatan. Sayuran dari Pagaralam dikirim ke berbagai kota di Sumatera Selatan, khususnya Palembang, bahkan sampai ke Jawa. Setiap hari ratusan truk mengangkut berbagai jenis sayuran dari Pagaralam.

Manfaat semua jenis sayuran khususnya bagi kesehatan tubuh manusia hampir sama, dan sangat dianjurkan agar kita setiap hari mengonsumsi sayuran karena sayuran berkhasiat untuk meningkatkan kesehatan dan metabolisme. Sayuran juga sumber vitamin, mineral, dan gizi, menyehatkan pencernaan, melancarkan BAB, sumber utama serat, meningkatkan system imum, mencegah berbagai penyakit.

Apakah bertanam sayuran menjanjikan peningkatan ekonomi rakyat ? Petani sayur nasibnya tak selalu mujur. Jawabannya bisa ya dan bisa juga tidak!

BACA JUGA:   FOTO: PPP Silaturahmi ke Syarikat Islam

Dikatakan ya apabila saat musim panen bukan musim hujan, dan saat musim panen tidak terlalu bersamaan sehingga pasar tidak kebanjiran sayuran, pasokan kurang permintaan tetap maka sesuai hukum ekonomi harga pasti naik.

Dikatakan tidak apabila saat musim hujan dimana sayuran saatnya panen, maka pasokan sayur ke pasar menjadi berlimpah, melebihi permintaan. Hukum ekonomi selalu berlaku, barang melimpah permintaan tetap maka harga pasti turun. Jadi musim penghujan petani sayur penghasilannya akan turun, bahkan adakalanya rugi.

Sebagai gambaran, Januari sampai Maret 2016 awal musim hujan, harga sayuran turun tajam. Tomat dari Rp 4.500 turun menjadi Rp 1.500 /kg, wortel dari Rp 4.000 turun menjadi Rp 1.500 /kg, daun sop dari Rp 20.000 turun menjadi Rp 1.500 /kg, kubis dari Rp 4.500 turun menjadi Rp 2.000 /kg. Semua harganya turun.

Sayuran adalah jenis komoditas pertanian yang tidak tahan lama. Ada batas waktunya, dalam hitungan hari, kalau tidak laku maka akan busuk, akan terbuang percuma, sehingga petani mengalami kerugian lebih besar. Problem menahun dan akut sepanjang tahun dan bertahun-tahun dihadapi oleh petani sayur ini seolah tidak ada jalan keluarnya, seolah hanya menjadi problem petani sehingga petani sendirilah yang harus menyelesaikannya.

Apakah persoalan rutin tahunan ini akan dibiarkan atau akan diselesaikan? Tergantung kita semua! Akar masalahnya jelas. Pasokan berlebihan di saat musim hujan, waktu panin yang bersamaan, daya tahan sayuran yang hanya dalam hitungan hari, pasar sayuran masih pasar tradisional lokal Sumsel.

BACA JUGA:   Ketua Pimpinan Syarikat Islam Desak Jokowi Usir Dubes Prancis dari Indonesia

Apabila keempat akar masalah ini selesai, Insya Allah harga akan stabil dan mungkin akan bergerak naik, keuntungan petani sayur akan meningkat, tentunya kesejahteraan petani meningkat, multiple efeknya daya beli rakyat naik. Inilah indahnya ekonomi kerakyatan. Penyelesaian, bukan mutlak beban petani, melainkan lebih banyak menjadi tugas dan tanggung jawab Pemerintah.

Pasokan yang berlebihan di saat musim hujan dan musim lain yang bersamaan dapat diatasi dengan turun tangannya Pemerintah memberi penyukuhan dan mengatur pola musim tanam. Daya tahan sayur yang hanya tahan dalam hitungan hari. Dapat diatasi dengan penyediaan cold storage baik di terminal sayur maupun pada mobil pengangkut, sehingga sayur sampai ke tujuan masih dalam keadaan segar.

Pasar sayuran masih pasar tradisional lokal Sumatera Selatan. Dapat diatasi dengan memperluas ke pasar di Pulau Jawa yang selama ini sudah pernah ada yang memasarkan sampai ke Jawa, tapi masih dalam jumlah sangat terbatas, dan karena waktu tempuhnya cukup lama, tranportasi tanpa cold storage maka sayuran menjadi rusak tidak segar.

Perlu upaya serius untuk menembus Pasar Luar Negeri, ekspor ke berbagai negara khususnya negara Asia. Dan, Asia perlu difasilitasi oleh Pemerintah dengan angkutan sayur ke luar negeri dengan pesawat, tentunya harus dibangun bandara yang memadai di centra produksi sayuran. Eksport merupakan suatu keharusan supaya negeri kita tidak hanya menjadi pasar komuditas pertanian negara lain, tapi menjadi pemasok atau eksportir.

Demikian disampaikan Susno.

sumber: klikanggaran.com

News Feed