Predator Seks Anak Coreng Jargon Cianjur Maju dan Agamis

by admin
2 views

POJOKJABAR.com, CIANJUR – Sejumlah pihak mengaku masih geram terhadap perbuatan tak senonoh yang dilakukan Robby Sugara (25) terhadap SF (6) di Kampung Legok Desa Sukamanah Kecamatan Cugenang, Kamis (6/10) lalu. Pria asal Lampung yang mengaku-ngaku khuruj tersebut lantas jadi bulan-bulanan warga setelah kepergok melancarkan aksi bejatnya.

Sekretaris Cabang Syarikat Islam (SI) Cianjur, Solihin turut menyoroti hal tersebut. Menurutnya, perilaku predator pedofil seperti yang dilakukan Robby bukan sekedar melanggar hukum namun sudah sangat merusak citra seorang pendakwah. Oleh karenanya, Solihin menilai, perlu ada kerja sama antar lembaga untuk mencegah peristiwa serupa menimpa anak-anak lainnya di kemudian hari dan merusak masa depan mereka.

“Ini penting untuk disikapi. Caranya bagaimana? Tentu perlu ada kesamaan persepsi antara pemerintah mulai dari yang terendah sampai ke pemerintahan daerah dengan berbagai elemen masyarakat,” ungkap pria yang akrab disapa Olih tersebut kepada Radar Cianjur (Grup Pojokjabar.com).

Ia menambahkan, dengan jargon Cianjur maju dan agamis, diperlukan adanya kontrol sosial. Olih menilai, bupati sudah melakukan berbagai langkah dalam mengimplementasikan jargon tersebut, seperti mengajak berjamaah di mesjid, bertadarus, serta berbagai aktivitas positif lainnya sebagai sarana membina mental.

BACA JUGA:   Bakti Sosial Khitanan Masal Santunan Anak Yatim dan Dhuafa PAC SI Arjasari,YPI, Ponpes Darul Fallah dan Pemerintah Desa Pinggirsari Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung

“Jadi dalam hal ini, masyarakat juga harus mengerti, ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja. Pengawasan paling vital ada di keluarga. Keluarga punya peranan sangat penting dalam menanamnkan pendidikan keagamaan,” tandasnya.

Hal senada disampaikan Kabid Advokasi dan Penanganan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur, Lidya Indayani Umar. Berdasarkan pengalamannya, peran keluarga sebagai fungsi perlindungan merupakan faktor terpenting, terutama dalam mencegah terjadinya kasus predator pedofil terhadap anak dibawah umur.

“Kita juga sering melakukan edukasi, sosialisasi supaya pihak keluarga tidak segan-segan untuk melapor apabila terjadi hal demikian. Hambatan dan kendala memang ada. Yang sering terjadi kan pihak keluarga enggan melapor karena merasa malu,” terang Lidya kepada Radar Cianjur.

Namun, masih kata Lidya, setelah kejadian berlalu, baru kemudian ada pelaporan. Secara otomatis, pihaknya kesulitan untuk melihat ciri-ciri fisik anak-anak korban pedofil. Padahal, ia mencatat untuk tahun 2016 ini sudah ada tiga kasus yang ditangani, belum termasuk yang dialami oleh SF dan kasus-kasus lainnya yang belum terungkap.

BACA JUGA:   Gerakan Amal Bersih-Bersih 1000 Masjid, Pulau Semujur Jadi Target SAKSI Babel yang ke-68

“Biasanya orang melakukan hal seperti itu, menjadi predator rata-rata karena sudah pernah menjadi korban sebelumnya. Agar tidak lagi bermunculan predator baru, kami tengah mengkaji terapi khusus agar korban tidak pernah lagi mengingat-ingat memori buruk tersebut,” sambungnya.

Selain itu, Lidya mengaku dalam hal ini peranan ulama dinilai penting dalam membina akhlak masyarakat agar tak terjebak perilaku menyimpang sepert yang dilakukan Robby Sugara, beberapa waktu lalu. Terlebih, pihaknya mengaku sangat mengapresiasi jargon Cianjur yang lebih maju dan agamis.

“Jargon Cianjur maju dan agamis itu sudah sangat bagus dan relevan, meski di sisi lain kita tidak bisa menutup mata bahwa predator pedofil masih mengintai,” tutup Lidya.

(radar cianjur/lan)

sumber: jabar.pojoksatu.id

You may also like

Chat sekarang
Punya Berita Seputar SI? Klik Disini