by

Ratu Adil, Raja Jawa tanpa Mahkota, Cermin Diri HOS Tjokroaminoto

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Gelar haji memang bukan main-main. Sebagai sosok Muslim paripurna –bila mendapat status haji mabrur – semenjak dahulu mereka jelas menjadi panutan. Salah satunya contohnya adalah disandarkan pada sosok bapak bangsa pemimpin Sarekat Islam (SI): Haji Oemar Said Tjokroaminoto (HOS Tjokroaminoto).Anak Wedono Kleco ini lahir di desa Bakur, Madiun Jawa

Massa Berjongkok Menunggu Kedatangan Tjokroaminoto

 Dalam sebah laporan yang dibuat yang dibuat H Agus Salim bagaimana rakyat diberbagai wilayah menyambut kedatangan Tjokro layaknya ‘Juru Selamat’ (Mesiah). Bahkan, ketika berjalan masuk ke dalam sebuah pertemuan, banyak di antara massa rakyat itu berjongkok ‘menyembah’ (menangkupkan tangan di depan wajah ) kepadanya.

Dari catatan Agus Salim diceritakan betapa antusiasnya orang menyambut kedatangan Tjokroaminoto dalam sebuah pertemuan yang diadakan di kantor SI di Situbundo. Menurut keterangan residen Situbondo, saat itu berkumpul sekitar 7.000 orang. Jalan-jalan dan alun-alun penuh sesak dengan manusia. Mereka bukan hanya SI, tetapi  hanya peminat. Dari taksiran Agus Salim saat itu massa sudah mencapai lebih dari 20 ribu orang (sebuah jumlah yang sangat banyak karena pada saat itu penduduk Jawa tak lebih dari 30 juta orang, sekarang sudah lebih dari 130 juta orang).

‘’Walaupun dilarang untuk berjabat tangan dengan Tjokroaminoto, ketika kami pergi ke tempat rapat orang berdesak-desakan. Orang ingin melihat wajah Sang Pemimpin. Tidak lagi tempat untuk pengurus (SI) begitu padat kerumunan manusia saat itu,’’ tulis Agus Saim.

BACA JUGA:   Syarikat Islam Sumatera Utara mengucapkan Selamat Milad ke-115 Tahun Syarikat Islam

Tak hanya itu, histeria massa kepada Tjokro terekam pada cerita Agus Salim. Menurut Agus Salim meski berdesak-desakan bahkan sampai ada tembok gedung yang roboh rakyat tetap memaksa ingin menemui Tjokroaminoto. Kata mereka: Kami datang dari tempat yang jauh bukan untuk mendengarkan orang bicara, tapi ingin melihat Raden Mas (Tjokroaminoto) dan mencium tangannya. Kami tidak akan mau pergi sebelum melihatnya.

‘’Dengan tenang mereka pun jongkok (menunggu kedatangan Tjokroaminoto,’’ tulis Agus Salim.

Tjokroaminoto Menolak Sanjungan Sebagai Ratu Adil

Bagaimana sikap pemimpin SI terhadap perlakuan yang begitu membahana –seolah seperti Ratu Adil — terhadap sang ketuanya? Pada umumnya baik para pengurus dan Tjokroaminoto sendiri pun menolaknya.

Dalam pidato pada Konggres SI di Bandung, Tjokroaminoto berkata: Walaupun hati kita penuh dengan harapan dan hasrat yang agung, tidak pernah bermimpi akan datangnya Ratu Adil atau keadaan-keadaan lain yang mustahil!

Dan pada kesempatan yang sama seorang pemimpin SI pun memperingatkan rakyat agar jangan mempercayai omongan para propaganda ‘mileranistis’. Ia pun mengingatkan kepada suatu pemberontakan mileranistis terkenal yang banyak menumpahkan darah orang yang tak berdosa (Pemberontakan Gedangan 1904 di sekitar Sidoarjo, Jawa Timur).

BACA JUGA:   SI cabang Banjarnegara: 115 tahun SI, Pergerakan syarikat islam menuju masyarakat 5.0

Jadi penolakan Tjokroaminoto dan para pengurus SI terhadap kepercayaan yang merindukan datangnya sosok Ratu Adil, Mesias, atau  mileranis itu dilakukan sepenuh kesadaran. Ini karena mereka mengerti gerakan itu pada ujungnya hanya akan memunculkan berbagai macam gerakan revolusioner primitif yang acap kai muncul di kalangan bangsa atau golongan yang kurang berpendidikan.

Penganut gerakan tersebut percaya bahwa akan segera tiba masyarakat yang seluruhnya baru yang akan melenyapkan kekurangan yang yang terdapat sekaligus. Maka Tjokroaminoto pun sadar bahwa kepercayaan itu adalah hal yang naif karena berkeyakinan buta akan tibanya seorang juru selamat yang diistilahkan akan membawa ‘langit serta bumi yang baru’.

 Alhasil, baik Tjokroaminoto dan para pengurus SI –seperti yang ditulis majalan ‘Kaoem Moeda’ yang terbit pada buan Oktober 1914 secara tegas menyatakan bahwa SI tidak punya urusan apa-apa dengan masalah ini (soal munculnya paham dan  gerakan ratu adil) yang kala itu sudah memicu keributan di beberapa daerah seperi di Manonaya (Priangan).

Akhirnya, kewaspadaan, keikhlasan berjuang, dan pengorbanan yang ada di dalam sosok Tjokroaminoto itulah yang perlu dicontoh para calon haji sepulangnya mereka dari tanah suci. Ini karena, mau tidak mau, seorang Muslim paripurna adalah sudah pasi akan dituntut menjadi pemimpin baik itu untuk dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

sumber: republika.co.id

News Feed