by

Sejarah terbentuknya Central Sarekat Islam di masa kolonial

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Merdeka.com – Nama Sarekat Islam sudah menjadi salah satu organisasi Islam yang terkenal ketika masa pemerintahan Hindia Belanda. Dalam waktu kurang satu tahun dari pendiriannya, Sarekat Islam sudah punya beberapa cabang di berbagai kota. Organisasi itu cukup berkembang dan kemajuan yang diraih oleh Sarekat Islam ini menjadi ancaman tersendiri bagi pemerintah kolonial.

Pemerintah kolonial segera mengeluarkan peraturan baru dengan tujuan untuk menghambat perkembangan yang sudah dicapai oleh Sarekat Islam, yaitu cabang harus berdiri sendiri dan terbatas di wilayahnya. Pemerintah kolonial nggak keberatan untuk Sarekat Islam daerah yang melakukan perwakilan yang bisa diurus oleh pengurus sentral. Setelah itu, segeralah dibentuk Central Sarikat Islam atau CSI yang mengorganisasikan 50 buah cabang kantor di daerah.

BACA JUGA:   16 Oktober 1905: Kontroversi Kelahiran Sarekat Islam dan Hari Kebangkitan Nasional

Saat pemerintah kolonial sudah mengijinkan dibentuknya partai politik, Sarekat Islam yang dulunya bukan partai politik berubah haluan menjadi partai politik. Sarekat Islam juga mengirimkan wakilnya dalam Volksraad atau Dewan Rakyat dan ikut berperan penting dalam Radicale Concentratie, yaitu sebuah perkumpulan yang bersifat radikal. Pemerintah kolonial juga dianggap mulai mengarah ke gaya kapitalisme sehingga banyak rakyat yang melakukan pertentangan.

BACA JUGA:   Unggul 66 Suara, Guntur Tompoh Jabat Ketua Koperasi TKBM 2020 – 2025

Sarekat Islam juga masih aktif untuk melakukan perkumpulan buruh. Dalam sebuah pembukaan rapat dewan, kaum Bumiputera pernah mengatakan tentang Janji November atau November Beloofte. Dalam pidatonya itu, Gubernur Jendral Hindia Belanda mengatakan kalau dalam zaman baru, pemerintah kolonial akan menjalin hubugan dengan proses demokratisasi. Dalam pidatonya juga, dia mengatakan kalau tiba saatnya, Dewan Rakyat akan menjadi organisasi rakyat. Sayangnya, hal itu nggak pernah terjadi dan Dewan Rakyat tetap jadi boneka kolonial. Meskipun begitu, semangat para pendiri tetap nggak berubah untuk bisa meraih kemerdekaan. [iwe]

sumber: merdeka.com

News Feed