by

Hamdan Zoelva: Bangsa yang Buruk Adalah Bangsa Pengekor

Print Friendly, PDF & Email

KIBLAT.NET, Jakarta- Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Dr Hamdan Zoelva, S.H., M.H., mengatakan bahwa jika ada pemimpin yang terlibat perkara korupsi atau narkoba, itu merupakan pemimpin yang tidak menggunakan nilai-nilai Islam dalam memimpin.

“Kalau bagi yang muslim, pasti itu meninggalkan nilai-nilai Islam kalau jadi banyak sisi tindakan dan sikap politiknya yang meninggalkan nilai-nilai Islam,” katanya kepada Kiblat.net pada Rabu (18/05) di Gedung MUI Pusat, Jakarta Pusat.

Karena itu, lanjutnya, tadi saya usulkan satu pendekatan melakukan pengkaderan secara khusus di luar yang dilakukan oleh ormas-ormas Islam. “Yang dilaksanakan oleh MUI, yang memberikan nilai-nilai itu (Islam) dan menerapkan nilai nilai itu. Karena nilai-nilai Islam itu kalau dipegang teguh itu sangat luar biasa,” imbuhnya.

BACA JUGA:   Hamdan Zoelva: Putusan Kasus HRS Tidak Penuhi Rasa Keadilan

“Dan orang akan terhindar dan tidak akan melakukan korupsi dan penyimpangan, itu pasti. Hanya saja kesadaran dan implementasi dan kesadaran yang jadi masalah,” jelasnya.

Menurutnya, akibat kepemimpinan yang buruk adalah bangsa menjadi bangsa yang kerdil dan hanya bisa mengekor pada bangsa lain.

“Kita kehilangan jati diri sebagai bangsa, kehilangan identity, identitas bangsa. Kalau sudah kehilagnan identitas, bangsa kita akan menjad bangsa pengikut, mengekor, bangsa leader,” jelasnya.

BACA JUGA:   Tanggapi Perkara HRS, Hamdan Zoelva: Tanpa Rasa Keadilan, Hukum Jadi Kehilangan Jiwa

Bangsa, kata dia, yang leader itu adalah bangsa yang memiliki nilai-nilai kebangsaan. Dan itu ditransfer ke negara-negara lain. Kalau kita kehilangan identitas bangsa, kita akan menjadi bangsa pengekor, bukan bangsa pemimpin.

“Tapi kalau nilai kita kuat dan kita pegang teguh, itu pasti tertular kepada bangsa-bangsa lain. Itulah banga besar,” pungkasnya.

Reporter: Taufiq Ishak
Editor: Hunef Ibrahim

sumber: kiblat.net

News Feed