by

Ruh Islam yang Membebaskan

Print Friendly, PDF & Email

Pak Tjokro atau nama lengkapnya Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto (1882-1934) adalah salah satu tokoh penting pergerakan Indonesia. Tokoh yang digelari Sang Raja Tanpa Mahkota di Nusantara, atau oleh Belanda disebut De Ongenkroonde Koning van Java (Raja Jawa yang Tak Dinobatkan) itu telah memberikan andil yang sangat besar dalam pergerakan Indonesia yang berujung pada proklamasi kemerdekaan.

Jejak perjuangan dan pemikiran Pak Tjokro bahkan melintasi zaman hingga saat ini. Buku yang ditulis oleh dosen Universitas Brawijaya dan Ketua Umum DPN Forum Dosen Ekonomi dan Bisnis Islam ini berupaya  memotret jejak perjuangan Pak Tjokro, khususnya peran sang pahlawan nasional yang sangat sentral dalam organisasi bernama Sarekat Islam.

Di bawah kepemimpinan Pak Tjokro yang digelari “Jang Oetama”, Sarekat Islam yang semula hanya beranggotakan 2.000 orang pada Juni 1912 berkembang menjadi 2,5 juta orang pada 1919 atau tujuh tahun kemudian. Sebuah prestasi yang tak tertandingi organisasi apa pun pada waktu itu.

Melalui penggalian yang mendalam terhadap berbagai karya tulis dan pidato Pak Tjokro, serta literatur dari dalam dan luar negeri, termasuk koran Oetoesan Hindia (1916 dan 1920) dan majalah Soeloeh Hoekoem (1932), penulis yang juga merupakan seorang pengagum Pak Tjokro, menuliskan sejarah HOS Tjokroaminoto yang, menurut penulis, terekam dalam perjalanan sejarahnya sendiri.

BACA JUGA:   Perkuat Gerakan Ekonomi Kerakyatan, DPW Syarikat Islam NTB Konsolidasi Organisasi

Penulis membagi bukunya menjadi tujuh bab, dimulai dengan memaparkan kelahiran Sang Raja Tanpa Mahkota (bab I). “Pak Tjokro merupakan representasi tokoh yang pertama kali mendengungkan secara terbuka ide pemerintahan sendiri (zelfbestuur), sebagai kata lain dari kemerdekaan nasional.” (5).

Kemudian, HOS Tjokroaminoto di antara perubahan zaman dan titik temu kiai-priayi. Dalam bab kedua ini penulis antara lain membahas tentang pertautan antara nasionalisme dan Islam, serta pan-Islamisme Asia.

Pada bab ketiga, penulis mengupas jejak perjuangan Pak Tjokro melalui Sarekat Islam.

Termasuk, di dalamnya tentang perlawanan terhadap Belanda yang dimulai dari rumahnya di Paneleh, Surabaya, yang sangat terkenal itu, langkah strategis menuju puncak perlawanan dan berjuang melalui volksraad (dewan daerah).

Bab keempat menguraikan tentang jejak langkah Pak Tjokro menegakkan negeri melalui sosialisme Islam. “Kesamaan antara Islam dan sosialisme bagi Pak Tjokro adalah dalam hal pembebasan dari kesengsaraan dan  ketidakadilan.” (hlm 73-74).

BACA JUGA:   Haul HOS Tjokroaminoto, Kaum Milenial Diajak Tiru Idenya tentang Ekonomi Mandiri

Pada bab kelima, penulis menjelaskan usaha tanpa lelah yang dilakukan oleh Pak Tjokro melekatkan negeri. Termasuk, di dalamnya penyebaran ideologi sosialisme Islam dan koneksitas dengan organisasi Islam lain serta menjalin komunikasi untuk kemerdekaan Indonesia.

Bab keenam menggambarkan persahabatan dan diskursus Jang Oetama (yang utama) dengan Hadji Agoes Salim, Abdoel Moeis, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, dan Sukarno.

Saat memberikan sambutan pada launching buku Yang Oetama: Jejak HOS Tjokroaminoto di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (20/5), Willy Tjokroaminoto, atas nama keluarga menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kerja keras Aji Dedi Mulawarman menulis buku tentang jejak perjuangan HOS Tjokroaminoto.

“Kami berharap Mas Dedi juga bersedia menulis buku tentang pemikiran-pemikiran HOS Tjokroaminoto,” kata Willy Tjokroaminoto.

Pak Tjokro sudah lama pergi. Namun, jejak perjuangan dan pemikirannya tetap abadi. Jejak dan pemikiran yang dilandasi ruh Islam yang membebaskan.   Irwan Kelana ed: Hafidz Muftisany

Judul    : Jang Oetama: Jejak HOS Tjokroaminoto
Penulis    : Aji Dedi Mulawarman
Penerbit    : Galang Pustaka
Cetakan    : I, 2015
Tebal    : xii+255 hlm

sumber: hos t

News Feed