by

Ini Akar Perseteruan Soekarno, Musso dan Kartosoewirjo

Print Friendly, PDF & Email

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dosen Sejarah Universitas Islam Negeri Jakarta, Muhammad Arief, mengungkap penyebab perseteruan antara Soekarno, Musso, dan Kartosoewirjo. Padahal, mereka bertiga sama-sama murid H.O.S Tjokroaminoto.

Perseteruan terjadi karena perseteruan ideologi yang sangat lama. Hal yang mengejutkan yakni Musso adalah anak dari kiai besar pengasuh pesantren di Kediri.

“Berawal dari atheis dan hanya menjadikan komunis sebagai penangkal penjajahan Belanda,” ujar Arief dalam acara beda novel ‘Seteru 1 Guru’ karya Haris Priyatna di Jakarta, Jumat (22/5). Namun, semakin intensifnya komunikasi yang mereka jalani membuat Musso terseret semakin jauh ke dalam ideologi garis kiri.

BACA JUGA:   Syarikat Islam Gelar Doa Bersama di Makam HOS Tjokroaminoto

Arief juga memaparkan alasan awal Kartosoewirjo ingin membentuk negara Islam di Indonesia. “Awal mulanya dari Perjanjian Renville,” ujarnya.

Akhirnya Kartosoewirjo menentang perjanjian tersebut. Ia berkeras akan berjuang mempertahankan wilayah yang menjadi haknya  dan melindungi rakyat. Kekecewaannya terhadap pemerintah pusat semakin menjadi dan membulatkan tekadnya untuk membentuk dan memproklamasikan negara Islam di Indonesia.

“Dia tidak konsisten dengan Piagam Jakarta yang mengatakan negara berdasarkan asas Pancasila. Kemudian meruncing menjadi perseteruan politik,” ujar dosen sejarah ini.

BACA JUGA:   Syarikat Islam Gelar Doa Bersama di Makam HOS Tjokroaminoto

Perjuangan Kartosoewirjo berakhir dalam sebuah upaya penangkapan tanggal 4 Juni 1962. Dia kemudian dieksekusi tanggal 5 September 1962 di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, Jakarta.

Acara bedah buku ‘Seteru 1 Guru’ dihadiri oleh Haris Priyatna selaku penulis dan sastrawan Jamal D. Rahman. Novel tersebut berisi pergulatan antara Soekarno-Musso-Kartosuwiryo. Ketiga orang tersebut sama-sama pernah berguru kepada H.O.S Tjokroaminoto.

sumber: nasional.republika.co.id

News Feed