by

HOS Tjokroaminoto, Raja Jawa tanpa mahkota

Print Friendly, PDF & Email

Merdeka.com – Siapa yang tak kenal dengan pria bernama lengkap Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Tjokroaminoto salah satu tokoh Islam yang merupakan guru dari para pahlawan Indonesia.

Masa kanak-kanak, Tjokroaminoto telah dilakukan ruwatan oleh kedua orangtua. Kala itu, ayah Tjokro RM Tjokroamiseno menginginkan anaknya menjadi ksatria piningit yang bisa mensejahterakan orang banyak.

Setelah beranjak dewasa, Tjokro menikahi seorang perempuan bernama Suharsikin. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan Siti Oetari yang merupakan istri dari Presiden RI-1 Soekarno.

Kemudian, pria berkelahiran Ponorogo ini selalu bekerja dan singgah di berbagai kota-kota lain yang biasa Tjokro sebut hijrah. Salah satu alasan dia melakukan hijrah mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW.

Tjokro ketika itu selalu menentang kebijakan-kebijakan pemerintah Hindia Belanda. Salah satu yang dia tak setuju dengan pemerintah Hindia Belada adalah perbudakan. Orang pribumi dipekerjakan oleh Belanda layaknya budak bukan manusia.

Kemudian, saat Tjokro menjadi redaktur koran Bintang Soerabaya membuat pemerintah Hindia Belanda ketakutan. Tjokro mengkritik pemerintah Hindia Belanda melalui tulisannya di surat kabar Bintang Soerabaya dan lainnya.

BACA JUGA:   M. Tabrani, Ketua Kongres Pemuda Pertama dan Penggagas Bahasa Indonesia, Ternyata Orang Madura

Surat kabar yang ditulisnya laris dijual dan selalu dibaca oleh beberapa kalangan kala itu. Tjokro disebut ancaman bagi pemerintah Hindia Belanda karena menulis propaganda di seluruh surat kabar. Tjokro pun langsung dikenal oleh tokoh organisasi pergerakan yang melawan Hindia Belanda.

Bahkan ketika itu juga utusan Serikat Dagang Islam menemui Tjokro untuk diminta bergabung. Tjokro lantas tak menolaknya ikut bagian dari Serikat Dagang Islam yang telah dilarang oleh Hindia Belanda.

Serikat Dagang Islam pun berubah menjadi Serikat Islam. Tjokro menjadi ketua Serikat Islam pada Tahun 1912. Serikat Islam langsung menjadi besar dengan dibukanya cabang-cabang di daerah.

Hingga saat itu, Tjokro dikenal sebagai Ksatria Piningit oleh para pribumi karena melakukan kebaikan bagi orang banyak. Selain itu disebutkan juga Raja Jawa Tanpa Mahkota atau De Ongekroonde Van Java.

BACA JUGA:   Peristiwa 8 Oktober : Kelahiran Haji Agus Salim

Selain itu, di depan rumah Tjokro selalu banyak orang menunggu untuk bertemunya. Rumah Tjokro yang sempat dijadikan kos-kosan untuk menimba ilmu bagi murid-muridnya yaitu Semaoen, Alimin, Muso, Soekarno dan Kartosuwiryo. Rumah untuk bertanya atau diskusi.

“Kusno (Soekarno) jangan pernah malu untuk bertanya di sini, bertanyalah sebanyak-sebanyaknya,” kata Tjokro pada saat Soekarno datang pertama kali di rumahnya seperti dikutip film Guru Bangsa HOS Tjokroaminoto.

Menteri Luar Negeri pertama Agus Salim juga menimba ilmu kepada Tjokro. Agus selalu mendampingi Tjokro dalam mengerjakan organisasi Serikat Islam.

“Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat,” kata Tjokro.

Bahkan Tjokro juga pernah berpesan kepada para murid-muridnya. “Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator,” kata itu yang selalu ditirukan oleh Soekarno hendak tidur selalu berorasi di kamar kosan hingga kawan-kawannya terbingung dan tertawa melihatnya. [hhw]

sumber: merdeka.com

News Feed