by

Tjokroaminoto dan Sebuah Cermin Bagi Politikus

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

REPUBLIKA.CO.ID,

Meski HOS Tjokroaminoto sangat masyhur, kisah laki-laki kelahiran 16 Agustus 1882 ini seolah lenyap tersapu masa. 


***
Hari ini (9/4), sosok Hadji Oemar Sadi Tjokroaminoto hidup kembali di ruang-ruang bioskop di seluruh Indonesia. Tjokro dibangkitkan melalui film, Guru Bangsa Tjokroaminoto, yang disutradarai Garin Nugroho. Film dengan genre drama-biopic ini menggambarkan kepribadian dan gerakan politik Sarekat Islam yang dipimpin Tjokro pada awal abad ke-20.

Pengamat politik Fachry Ali mengapresiasi hadirnya film langka ini. Menurut dia, Tjokroaminoto patut diteladani sebagai perintis munculnya organisasi nasionalis modern dalam melawan penjajah. Tjokroaminoto merupakan pembuka jalan.

‘’Hanya dialah pada zamannya yang mampu membuat gerakan massa secara terorganisasi,” tutur Fachry Ali, Rabu (8/4). Gerakan massa itu adalah Sarekat Islam (SI) yang terbentuk pada 1912. SI merupakan partai politik pertama yang benar-benar berakar di tengah masyarakat.

Meskipun sebelumnya, ada pula partai politik semisal Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) sebagai cikal bakal Partai Komunis Indonesia, yang bergerak di kalangan bawah, SI memiliki kekuatan yang besar melawan mereka. SI benar-benar membela wong cilik.

Fachry menyebut, Tjokroaminoto dikatakan oleh seorang penulis Belanda sebagai “Raja Jawa tanpa mahkota”. Alasannya, setelah reda Perang Diponegoro (1825-1830), rakyat Jawa tidak lagi merasakan adanya gerakan melawan kuasa penjajah Belanda. Pada 1830, hampir seluruh bangsawan Jawa masuk birokrasi kolonial Belanda. Mereka digaji Belanda.

BACA JUGA:   Syarikat Islam Jawa Barat mengucapkan Selamat Milad ke-115 Tahun Syarikat Islam

Lalu, muncul sosok Tjokroaminoto yang kemudian dianggap penjelmaan ratu adil oleh rakyat. Selain itu, Tjokroaminoto merupakan orang yang pertama menuntut agar Hindia Belanda memiliki pemerintahan yang berdiri sendiri, lepas dari Kerajaan Belanda. Pada 1916, Tjokroaminoto menulis petisi tentang itu.

Fachry juga menjelaskan, kediaman Tjokroaminoto telah menjadi tempat kaderisasi bagi pemimpin-pemimpin besar bangsa Indonesia. Sebut saja Sukarno, Semaun, dan RM Kartosuwirjo. Mereka kemudian mengusung ideologinya sendir-sendiri.

Sukarno dengan nasionalismenya, Semaun dengan pandangan komunisme, dan Kartosuwirjo dengan pandangan politik Islam. “Tampak Tjokroaminoto memunculkan tokoh-tokoh yang beragam pandangan,’’ kata Fachry.

Setidaknya, ungkap dia, ketiga tokoh tersebut ketika muda sangat terinspirasi oleh pandangan modern Tjokroaminoto dalam menyusun pergerakan melawan kolonialisme. Jadi, kata Fachry, Tjokroaminoto-lah yang membuka ambang modernisasi politik pertama kali bagi Indonesia.

Sutradara Garin Nugroho menyatakan, Tjokroaminoto merupakan tokoh politik andal. Ia tahu bagaimana politik yang sesungguhnya. Lewat film ini, Garin ingin masyarakat Indonesia, khususnya kaum mudanya, belajar sungguh-sungguh dari Tjokroaminoto.

Realitasnya saat ini banyak orang ingin terjun ke panggung politik, tapi tidak belajar mengenai politik sesungguhnya. Tjokro merupakan cermin dari seorang politikus andal. Sosoknya jenius dan memiliki sejarah. Ia bukan seorang politikus yang masuk ranah politik tanpa belajar ilmu politik.

BACA JUGA:   Ulama Diminta Terapkan Protokol Kesehatan Ketat

Tjokro juga sahabat karib Agus Salim, yang menggantikan posisinya sebagai ketua Sarekat Islam. Meski ia tokoh penting Sarekat Islam, ia terkenal sebagai orang yang menghargai setiap ideologi. Ia melahirkan trilogi semurni-murni tauhid, setinggi-tinggi ilmu, dan sepintar-pintar siasat.

Poin pertama bermakna, nilai-nilai dasar dalam Islam, yakni keimanan dan ketakwaan. Semua orang setara, tidak memandang Belanda, Cina, ataupun pribumi. Valina menyebutkan, yang membedakan hanyalah keimanan kepada Allah.

Poin kedua berkaitan dengan sikap progresif. Setelah menekankan egalitarian bertauhid, lanjut Valina, Tjokroaminoto mengajak masyarakat agar menguasai ilmu pengetahuan. Sebab, selain beriman, masyarakat pun harus unggul dalam hal penalaran. Poin ketiga bermakna penguatan strategi secara sistematis dan terorganisasi.

Garin mengungkapkan, meski Tjokro sangat masyhur, kisah laki-laki kelahiran 16 Agustus 1882 itu seolah lenyap tersapu masa. Ia mengakui pula, semula ia ragu untuk membuat film mengenai kehidupan Tjokro.

Sementara, Ketua Umum PP Wanita Sarekat Islam Valina Singka Subekti menyematkan gelar pada Tjokroaminoto sebagai bapak emansipasi perempuan Indonesia. Sebab, Tjokroaminoto telah banyak menulis dan berbuat terkait kesetaraan laki-laki dan perempuan.

Valina mencontohkan buku Tjokroaminoto berjudul, Islam dan Sosialisme, dipaparkan di dalamnya tentang kemajuan yang setara bagi laki-laki dan perempuan dalam pergerakan. ‘’Pandangan beliau tentang laki-laki dan perempuan sangat progresif.’’ n c14 ed: ferry kisihandi

sumber: republika.co.id

News Feed