by

Suatu Sore di Rumah HOS Tjokroaminoto

Print Friendly, PDF & Email

REPUBLIKA.CO.ID,Suatu Sore di Rumah HOS Tjokroaminoto

Di rumah itu, Sukarno dan kawan-kawan yang kelak menjadi tokoh-tokoh penting mendapatkan wawasan politik, pergerakan sosial, hingga ilmu agama dari sang bapak kos, HOS Tjokroaminoto.

Ashar hampir menjelang ketika saya berhasil menemukan rumah tua berpagar hijau itu di Gang Peneleh VII, Surabaya, akhir Februari lalu. Penampakan rumah joglo dari akhir abad ke-19 itu persis seperti saya lihat di catatan blog sejumlah peminat wisata sejarah.

Itulah rumah peninggalan HOS Tjokroaminoto, seorang bapak bangsa yang namanya kini banyak diabadikan menandai jalan-jalan protokol di negeri ini. Tak hanya HOS Tjokro, hunian sederhana itu juga memiliki ikatan sejarah dengan sejumlah tokoh politik penting zaman pergerakan. Sebut saja Sukarno, Semaun, Musso, dan Kartosuwirjo.

Di rumah itu, Sukarno indekos selama beberapa tahun sejak 1916, semasa dia bersekolah di  Hogere Burgerlijks School (HBS). Tak hanya menyewa kamar, Sukarno dan kawan-kawannya yang kelak menjadi tokoh-tokoh penting mendapatkan wawasan politik, pergerakan sosial, hingga ilmu agama dari sang bapak kos, HOS Tjokroaminoto, ketika sudah memimpin perhimpunan Sarekat Islam.

Melihat pintu pagar tumah itu disegel gembok, rasa senang saya menjadi tercampur waswas. Sementara, gang yang tak seberapa lebar tempat rumah itu berdiri saya dapati sepi. Beberapa menit saya tertegun mencari orang untuk ditanyai.

Memasuki gang, seorang bapak turun dari sepeda motornya, lalu mendorong kuda besinya itu hendak melintas di depan saya. Dari si bapak, saya diberi petunjuk ke mana harus menemukan sang penjaga rumah.

Berjalan ke ujung gang hingga seratus meter jauhnya, saya menemukan rumah sang penjaga, Eko Hadiratno. Pria 40-an tahun yang dipercaya mengelola rumah HOS Tjokro itu adalah ketua RT di lingkungan setempat.

Bayangan sejarah
Memasuki rumah berukuran sekitar 13 x 9 meter itu, saya merasa diserbu bayangan sejarah. Meja dan kursi kayu lawas, bufet, meja rias, foto-foto penuh kenangan. Gambar-gambar HOS Tjokro dalam berbagai suasana, juga foto-foto Sukarno dan yang lainnya, dipasang di sepanjang dinding rumah. “Foto-foto ini sebagian didatangkan dari Belanda,” ujar Eko yang menyertai langkah saya.

BACA JUGA:   Jelang Muktamar, Pengurus PPP Kunjungi Kantor Syarikat Islam untuk Minta Masukan

Di rumah itu, Sukarno muda mulai mengasah wawasan politik dan pengetahuan tentang gerakan sosial. Sementara sekolah menyediakan pelajaran formal sebagai latar pengetahuan umum, pelajaran politik dia dapat dari HOS Tjokroaminoto, sang bapak kos yang tak lain adalah ketua Sarikat Islam. Organisasi itu pada zamannya merupakan perkumpulan pribumi terbesar beranggotakan 2,5 juta orang.

Tak hanya Sukarno, sejumlah pemuda indekos lainnya juga mendapat gemblengan HOS Tjokro. Beberapa di antaranya kelak berseberangan jalan dengan Sukarno bahkan dengan sang guru sendiri. Mereka adalah Semaoen, Musso, Alimin, dan Darsono yang kemudian menjadi pentolan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sementara pemuda lainnya, yakni SM Kartosuwirjo, pada masa tuanya menyatakan perang terhadap Republik Indonesia dan mendeklarasikan Negara Islam Indonesia.

Di rumah itu pula Sukarno mengenal tokoh-tokoh pergerakan lainnya yang kerap datang bertamu. Mereka di antaranya Tan Malaka, KH Agus Salim, Suwardi Suryadiningrat (Ki Hadjar Dewantara), pentolan Perhimpunan Sosial-Demokratik Hindia (ISDV) Henk Sneevliet, dan masih banyak lagi.

Ada beberapa ruangan di dalam rumah itu. Ruangan utama, tempat meja dan kursi kayu diletakkan, adalah ruang tamu. Melewati lorong menuju bagian belakang, di kanan-kiri terdapat ruangan.

Ruangan di sebelah kanan terlihat jelas seperti kamar, lengkap dengan daun pintu yang masih tersisa.

Di kamar itu, tergantung logo Partai Sarikat Islam Indonesia dalam bingkai besar. Menurut Eko, itulah benda paling bernilai yang diwanti-wanti pihak ahli waris untuk dijaga benar-benar. Sementara, ia melanjutkan, perabot dan barang-barang lain sebagian besar ditambahkan sebagai pelengkap. Barang-barang asli sendiri, menurut dia, sudah tidak jelas rimbanya.

BACA JUGA:   Pertama Kali Secara Internasional, Netflix Resmi Tayangkan Film HOS Tjokroaminoto di Hari Pahlawan

Eko bercerita, tata ruang di rumah tersebut adalah hasil dari beberapa kali pemugaran. Sejumlah dinding penyekat di bagian depan dan tengah, kata dia, terpaksa dihilangkan agar rumah lebih leluasa menerima pengunjung.

Di belakang, masih ada satu ruangan lain. Ruangan itu juga menjadi akses untuk menemukan ruangan lainnya di bagian atas. Menaiki anak-anak tangga dari besi, saya menghadapi ruangan paling luas di rumah tersebut. Berukuran sekitar 10 x 5 meter, ruangan itu berdipan kayu dan hampir tak berjarak dengan atap.

Eko sendiri mengaku kurang yakin peruntukan ruangan tersebut. Berdasarkan pengakuan Sukarno, bahwa pemuda yang indekos hingga 30 orang, kemungkinan ruang tersebut disekat untuk kamar-kamar tidur.

Sempat ‘hilang’
Sebelum tahun 1996, kata Eko, rumah HOS Tjokro boleh disebut “hilang”. Sejarah joglo itu, kata dia, dirahasiakan keluarga HOS Tjokro, begitupun keluarga Soenarjo, warga kampung yang dititipi kunci. Menurut dia, hingga kunci dipegang anak perempuan Soenarjo yang bernama Ema, sejarah rumah tersebut masih disimpan rapat-rapat.

“Sepertinya karena alasan politik, waktu itu kan masih zaman Orde Baru, segala sesuatu yang berbau Sukarno tidak aman,” kata Eko.

Baru pada 1996, Eko bercerita, putri Sukarno, Sukmawati, membuka sejarah rumah tersebut kepada publik. Bersama dengan itu, Eko bercerita, kepemilikan rumah tersebut juga diserahkan kepada Pemkot Surabaya, dengan harapan menjadi cagar budaya.

Eko bercerita, perbaikan situs bersejarah tersebut dilakukan secara berkala, terutama dalam tiga tahun terakhir. Genting dan plafon yang dulu bocor telah diperbaiki. Begitu juga dengan pengadaan berbagai bukti dokumentasi, seperti foto. Termasuk, perabot dan fasilitas penunjang, seperti perangkat audio untuk memutar lagu-lagu perjuangan.

Berada satu jam di sana, langit semakin mendung ketika saya pamit untuk pulang. Senyum Eko yang ramah menyertai saya mendorong sepeda motor menuju gerbang di depan sana. N ed: nina chairani

sumber: republika.co.id

News Feed