by

‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’: Hijrah Raja Jawa Tanpa Makhkota

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Jakarta – Hijrah pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW dari dari Mekah ke Medinah karena tekanan kaum Quraisy. Hijrah juga dilakukan HOS Tjokroaminoto hingga kemudian lahir ideologi-ideologi yang menjadi asal usul pergerakan politik nasional.

Perjalanan hidup Raden Hadji Omar Said (HOS) Tjokroaminoto yang diangkat sutradara Garin Nugroho mengambil latar di era 1890-1920an. Pahlawan rakyat yang dijuluki ‘Raja Tanpa Makhkota’ ini lahir dari kaum bangsawan Jawa dengan latar belakang keislaman yang kuat.

Saat era itu, Indonesia masih bernama Hindia Belanda, dan 80 persen rakyat masih kesulitan baca-tulis. Tjokroaminoto diceritakan rela melepas atribut keningratannya untuk membaur bersama rakyat biasa.

Lewat kepemimpinan Tjokroaminoto, rakyat kecil yang sebelumnya tidak memiliki akses ke dunia politik, mulai dibukakan jalannya untuk ikut berpartisipasi melalui Sarekat Islam. Organisasi yang dipimpinnya itu menjadi organisasi terbesar pertama dengan anggota sebanyak 2 juta orang yang berasal dari berbagai kalangan kelas sosial.

BACA JUGA:   Peristiwa 10 September: HUT TNI Angkatan Laut

Prinsip sama rata dan sama rasa yang disuarakan Tjokroaminoto, menumbuhkan harapan rakyat yang selama ini menjadi sapi perah, baik dari tenaga maupun hasil bumi yang menjadi hak mereka. Dari Ponorogo, Semarang, hingga Surabaya, Tjokroaminoto berpindah-pindah mencari tempat lebih baik dalam mengembangkan ideologinya.

Rumah Tjokro di Gang Peneleh, Surabaya, terkenal sebagai tempat bertemunya tokoh-tokoh bangsa Indonesia kelak. Karakter utama yang diperankan Reza Rahadian ini tumbuh menjadi guru dari para pemimpin pergerakan seperti Soekarno, Semaoen, Alimin, Moesso, Tan Malaka, hingga Kartosuwiryo. Namun dua nama terakhir tidak muncul di film karena latar cerita yang berujung di 1921.

Sepanjang durasinya yang lebih dari 130 menit, terlalu banyak hal yang bisa diceritakan dari film ini. Plot berjalan maju dan mundur cantik, dengan penampilan cast yang sama rata bagusnya. Hanya Reza Rahadian yang tampak lebih menonjol, karena dia adalah tokoh utama.

BACA JUGA:   Polemik R.A.A Wiranatakoesoemah V dengan Kaum Komunis

Departemen art, kostum, musik, sinematografi dan naskah bersinergi dengan baik dan menjadikan ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ sebagai tontonan yang tak hanya menuturkan kembali sejarah, tetapi juga memberi pengalaman sinematik yang baik dan menyenangkan.

Jika selama ini kita melihat banyak kritik kepada film nasional yang disebut sering berkutat pada dada, paha dan hantu, maka datanglah ke bioskop dan saksikan ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’. Karena tanpa dukungan penonton, tuntutan atas hadirnya film-film berkualitas seperti ini akan sulit terwujud.

(ich/ron)

sumber: detik.com

News Feed