by

Kongres Pemuda Teladani Tjokroaminoto

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Ratusan mahasiswa mengikuti Kongres Pemuda Surabaya 2015 digelar Ya ya san Keluarga Besar Raden Hadji Oe mar Said (HOS) Tjokroaminoto. Ke gia tan ini se ka ligus menandai pe luncuran film Guru Besar Tjokroaminoto, di Su rabaya, Kamis (5/3).

“Kongres merupakan salah satu rangkaian kegiatan film untuk menyosialisasikan semangat dan nilai perjuangan seorang tokoh pergerakan nasional,” ujar Ketua YKB HOS Tjokroaminoto, Ai Tjokroaminoto, di sela peluncuran film di pelataran rumah peninggalan Tjokroaminoto di Jalan Peneleh VII Nomor 29-31 Surabaya.

Ia menjelaskan kongres yang digelar di Balai Pemuda Surabaya diikuti sekitar 450 mahasiswa dari sejumlah universitas di kota setempat. Selain itu, kongres juga menghadirkan aktris senior dan pro duser Christine Hakim mewakili Garin Nugroho, aktor muda dan pemeran tokoh utama Reza Ra hardian, Sabrang Noe (artis), serta keluarga be sar HOS Tjokroaminoto.

BACA JUGA:   20 Agustus 2020 Program Salam Indonesia Bisa Penyejuk Hati bersama Prof. Ahmad Thib Raya

Menurut dia, tujuan utama kongres ini yakni mengumpulkan anak muda Indonesia di tiga kota, masing-masing Surabaya, Yogyakarta, dan Jakarta, serta membuat kesepakatan “Resolusi Anak Muda Indonesia” (RAMI) 2015 mengenai empat hal, yakni kemerdekaan, persamaan, persau dara an, dan identitas sebagai Bangsa Indonesia.

Dalam kesempatan itu, Christine Hakim yang juga produser film Guru Besar Tjokroaminoto mengaku terharu dan bangga bisa menyelesaikan film yang menceritakan dan mengajarkan tentang pentingnya nasionalisme. Ia menekankan bahwa Tjokroaminoto adalah guru besar. “Dia adalah guru Presiden Soekarno, KH Hasyim Asyaari, Tan Malaka, Semaoen, Alimin, dan be berapa tokoh bangsa lainnya,” ujarnya, sambil me nitikkan air mata.

Hal senada disampaikan Reza Rahardian. Aktor sekaligus pemeran utama yang mengaku ber syukur bisa memerankan tokoh sebesar Tjokroaminoto ini menyatakan film tersebut sangat penting untuk menyosialisasikan sejarah ber dirinya Indonesia yang mulai dilupakan. “Buktinya, saat ada pertanyaan siapa Tjo kroa minoto, yang kita tahu hanya nama pahlawan, tapi tidak sejarah. Ironisnya, kita juga tahu hanya se kadar nama jalan,” katanya.

BACA JUGA:   Peristiwa 10 September: HUT TNI Angkatan Laut

Sementara itu, cucu Tjokroaminoto Harjono Sigit Bahrul Salam mengaku senang ketika per jua ngan sang kakek dibuat film. Ini sebagai bentuk rekonstruksi kembali sejarah yang mulai dilupakan.

“Semoga ceritanya mampu memengaruhi generasi muda sekaligus inspirasi untuk semakin bang ga dan cinta Tanah Air,” kata ayah kan dung penyanyi Maia Estianti, yang juga pernah men jabat Rektor Institut Teknologi Sepuluh No pem ber (ITS) Surabaya tersebut. ?? antara ed: yusuf assidiq

sumber: republika.co.id

News Feed