by

Film ‘HOS Tjokroaminoto’ Didukung Crew Terbaik

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Film yang mengangkat kehidupan tokoh pahlawan pergerakan nasional, HOS Tjokroaminoto pada era 1890-1920an akan dirilis pada awal tahun depan. Film bergenre sejarah ini akan melibatkan insan perfilman terbaik Indonesia.

Diantaranya Didi Petet, Ipung Rahmat Syaiful, Allan Triyan Sebastian, Retno Ratih Damayanti, Ong Hari Wahyu, Didin Syamsudin, Elza Hidayat, Paul Fauzan Agusta, Dian Lasvita dan juga Andi Rianto. Deretan nama-nama tersebut merupakan jajaran terbaik pada bidangnya masing-masing.

“Untuk memperkenalkan sosok HOS Tjokroaminoto yang begitu berat dan besar dengan karakter, jasa dan intelektualnya, pemilihan para crew ini pun dipilih orang-orang dengan kualitas terbaik mulai dari jajaran produser sampai talentnya” ujar Wakil Ketua Yayasan HOS Tjokroaminoto, Erik Hidayat dalam siaran pers yang diterima Republika Online (ROL), Sabtu (29/11).

Mereka juga dinilai berkompeten untuk membangun suasana pada masa era itu dengan latar belakang yang mereka miliki pada dunia perfilman.

Pemilihan Retno Ratih Damayanti misalnya sebagai penata busana dan Didin Syamsudin sebagai penata rias, tidak terlepas dari kiprah mereka di layar lebar. Retno telah menangani kostum hampir disemua proyek film sejarah Indonesia. Sebut saja sejumlah layar lebar garapan Hanung Bramantyo, yang membawanya masuk menjadi nominasi penata busana terbaik lewat film Habibie & Ainun tahun 2012 dan menjadi crew penata busana pada film Soekarno: Indonesia Merdeka (2013) juga dalam beberapa film besar lainnya.

Sedangkan Didin Syamsudin merupakan seorang make up artist sejak jaman mendiang Teguh Karya. Didin juga menjadi penata rias dalam semua film horor yang dibintangi oleh Suzanna sejak tahun 1980.

Kedua insan perfilman tersebut sangat relevan dengan film ini untuk membangun dan memberi gambaran mengenai gaya busana pada tahun tersebut (1890-1921).

HOS Tjokroaminoto sendiri merupakan sosok yang menggabungkan fashion dari para level kasta untuk menandai kaumnya dan beliau memakainya menjadi satu kesatuan yang digunakan dalam kesehariannya untuk menegaskan kesetaraan dan kemerdekaan berfikir serta bertindak pada zaman kolonial.

Begitu juga dari segi make up, hal ini sangat esensial untuk menciptakan sosok-sosok yang berbeda mulai dari latar belakang dan level ekonomi sampai berbagai suku bangsa dan etnis yang ada di film tersebut.

Film ini telah melakukan proses syuting pada bulan september lalu. Film yang disutradari oleh Garin Nugroho ini mengambil lokasi syuting dibeberapa kota bersejarah seperti Ambarawa, Semarang, dan Yogyakarta bertujuan untuk menghidupkan kembali suasana kota lama Surabaya pada masa itu.

sumber: senggang.republika.co.id

News Feed