by

Saksi Dari Prabowo-Hatta Kembali Mengudang Tawa di MK

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

JAKARTA (Pos Kota) – Tim Advokasi Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mengungkap tentang tiadanya pencoblosan di dua distrik di Papua, dalam lanjutan perkara sengketa perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) Pilpres di ruang sidang MK, Selasa (12/8).

“Terus terang, saya keberatan dengan rekap (penhitungan suara) provinsi,  karena  tanpa dua distrik di Dogyai. Memang, ada rekomendasi dari Bawaslu untuk pemungutan ulang di dua distrik itu,  tapi belum dilaksanakan,” kata saksi Dadi Waluyo yang diajukan pasangan  Prabowo-Hatta, dalam sidang di ruang MK, Selasa.

Alasan tidak digelarnya pencoblosan Pilpres, dengan dalih logistik Pilpres belum sampai. Dua distrik yang tidak jadi menggelar pencoblosan, adalah   Mapia Barat dan Mapia Tengah Kabupaten Dogyai.

Situasi itu makin keruh dan merugikan pasangan Prabowo-Hatta, sebab KPU tidak mengadakan pemungutan suara ulang dengan dasar waktunya tidak cukup. Apalagi dari 10 distrik di Kabupaten Dogyai, pasangan ini tidak mendapat suara sama sekali. Ini sempat dikeluhkan oleh Prabowo dalam pembukaan sidang pertama, Rabu (6/8) mengingat ada saksi dari pasangan Prabowo-Hatta. Sebaliknya, Jokowi-Kalla mendapat 89.536 suara.

BACA JUGA:   Rindu Kejayaan SI Kota Tasik dalam Menggerakkan Ekonomi Umat

Sempat terjadi perdebatan soal pengesahan suara di Dogyai, namun akhirnya disepakati untuk disahkan dengan catatan tanpa dua distrik tersebut.

DIANCAM

Selain itu, saksi dari pasangan Prabowo-Hatta, Vincent Dogomo dari Papua, justru diancam ketika pemungutan suara.  “Saya diancam di sana Pak. Jadi,  saya tidak berani ajukan keberatan saat  proses rekapitulasi,” aku Vincent.

Hanya saja, Vincent dengan dialek khas Papua enggan membeberkan kepada Ketua Majelis Hakim Hamdan Zoelva, meski terus ditanya dan akan dilindungi. “Saya tidak berani Yang Mulia,” ujarnya dengan suara yang keras sembari melanjutkan pejabat daerah disana saja diusir juga dalam proses rekapitulasi.

Belakangan, setelah terus dikejar, pejabat daerah yang dinaksud adalah bupati setempat.

Jawaban-jawaban saksi dengan suara keras dan khas Hamdan mengundang tawa. Namun, Hamdan sempat mengingatkan kangan terlalu keras, karena sudah ada pengeras suara. Meski demikian, Hamdan tetap menyampaikan diiringi senyum.

“Di sini pakai mic. Jadi (suaranya) pelan saja, kalau di Papua (suara) keras  biasa cuma di sini pakai mic,” tukas Hamdan sembari  tersenyum.

BACA JUGA:   18 September 2020 Program Salam Indonesia Bisa Penyejuk Hati bersama Dr. H. Hamdan Zoelva, SH.MH

Sebaliknya dengan saksi lain dari Prabowo-Hatta, yakni Novela dari Kampung Kampung Awaputu, Kabupaten Dogiyai, Papua, justru banyak mengundang tawa.

“Tadi, dibilang pencoblosan tanggal 9 Juli, tapi Saudari jawab tidak tahu dimulai dari pukul berapa. Lalu, tanggal 9 Juli itu apa,” tanya Hamdan.

“Itu di tempat lain,” jawab Novela tak kalah tangkas sembari memberitahukan saat itu dirinya berada di kampung dan melihat tidak ada TPS.

“Tidak ada. Saya tidak bisa terangkan,  karena memang tidak ada yang bisa diterangkan,” lanjutnya.
Penjelasan Novela yang lagi-lagi mengundang senyum ketika anggota majelis Patrialis Akbar menanyakan suasana disana saat pencoplosan.

“Jangan tanya ke saya, karena saya juga masyarakat. Tanyaka ke penyelenggara Pilpres,” ucapnya dengabn nada keras.

“Nggak apa-apa,  saya suka gaya anda seperti ini. Lanjutkan. Ini gaya Kartini masa kini,” jawab Patrialis dengan senyum. (ahi)

sumber: poskotanews.com


Deprecated: implode(): Passing glue string after array is deprecated. Swap the parameters in /var/www/vhosts/si.or.id/public_html/wp-content/themes/newkarma/inc/template-tags.php on line 606

Deprecated: implode(): Passing glue string after array is deprecated. Swap the parameters in /var/www/vhosts/si.or.id/public_html/wp-content/themes/newkarma/inc/template-tags.php on line 606

News Feed