by

Kisah Haji Agus Salim mencari sprei dan taplak untuk kain kafan

Print Friendly, PDF & Email

Merdeka.com – M Zain Djambek (putra Syekh Jamil Djambek, ulama Sumatera Barat yang pernah menjadi anggota DPA pada 1945) memiliki kenangan khusus tentang kesederhanaan Haji Agus Salim.

M Zain Djambek bercerita pada suatu masa ketika Haji Agus Salim memerlukan sejumlah uang untuk membayar sesuatu yang mendesak. Dia berusaha ke sana ke mari, berikhtiar dengan mengerahkan segala tenaga, namun ternyata tak berhasil.

Pulanglah ia dengan tangan hampa. Ketika ditanya, bagaimana usahanya, menjawablah ia, “Saya sudah cari ke mana-mana, segala daya upaya telah saya kerahkan, namun rezeki itu tak juga bersua. Sekarang saya nantikan, sampai ia tiba,” demikian Haji Agus Salim dikutip Zain Djambek dalam bab Pendapat Orang dan Sketsa-sketsa tentang Haji Agus Salim karya Kustiniyati Mochtar.

BACA JUGA:   15 Pahlawan Nasional dari Sumatra Barat

Topik pilihan: Pelecehan Seksual di JIS | Pembajakan Virginblue | Penganiayaan Taruna STIP

Ada lagi kenangan M Zain Djambek yang dikutip oleh Kustiniyati Mochtar. Saat itu, dalam mempersiapkan keperluan memandikan jenazah anaknya yang sangat dicintainya, Haji Agus Salim mencari sprei atau kain meja untuk disuruh cuci, kemudian akan dijadikan kain kafan.

BACA JUGA:   16 Oktober 1905: Kontroversi Kelahiran Sarekat Islam dan Hari Kebangkitan Nasional

Ketika ada orang yang menyerahkan kain yang baru dibeli, pemberian ini ditolak sambil mengatakan: “Kain baru dan sebagus ini, tak semestinya untuk orang mati. Orang hidup lebih berhak memakainya. Untuk yang sudah mati, cukup kain tua, sebagai pakaian kembali pada Tuhannya…” [tts]

sumber: merdeka.com

News Feed