by

Aktivis Mesir sebut Agus Salim sebagai Superman dari Indonesia

Print Friendly, PDF & Email

Merdeka.com – M Zain Hasan adalah seorang aktivis Kairo tahun 1947. Ia begitu mengagumi sosok Haji Agus Salim. Saking kagumnya, Hasan menyebut Agus Salim sebagai seorang Superman.

“Sekali kelihatan seperti Superman dan di lain kali lahir sebagai man dan dalam kedua hal itu beliau tetap luar biasa,” sanjung Hasan seperti ia tulis dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim terbitan Sinar Harapan.

Hasan punya banyak kenangan terhadap Haji Agus Salim. Terutama saat Agus Salim berada di Kairo, Mesir selama 4 bulan. Berikut ini kekaguman Hasan terhadap Agus Salim sampai ia menjuluki sebagai Superman dari Indonesia:

Mampu berjalan cepat di usia 60 tahun

Hasan punya cerita luar biasa mengenai sosok Agus Salim. Suatu hari Hasan berjalan bareng Agus Salim di Jalan Fouad Awal. Ketika itu suasana jalanan sedang ramai.

Agus Salim yang sudah berusia 60 tahun itu ternyata masih mampu berjalan cepat. Padahal jalanan ramai dan sesak penuh manusia.

“Saya yang waktu itu masih muda belia, kewalahan mengikutinya, bukan karena kecepatannya, tetapi pula karena sering pula beliau ‘menghardik’ anak-anak muda yang suka menghampang-hampangkan jalan besar dan ramai itu,” katanya.

Melihat jalan cepat Agus Salim, Hasan pun sampai kaget. Karena waktu itu usia Haji Agus Salim sudah tak muda lagi.

Terpesona bahasa Arab Agus Salim

Saat ceramah di Gedung Persatuan Wartawan Mesir, Agus Salim membuat kejutan (surprise) yang mengagumkan. Pada mulanya, tidak semua mengira jika Agus Salim akan berbicara menggunakan bahasa Arab di hadapan cendekiawan Mesir dan wartawan.

BACA JUGA:   Pertama Kali Secara Internasional, Netflix Resmi Tayangkan Film HOS Tjokroaminoto di Hari Pahlawan

Padahal, pada awal pertemuan dengan wartawan Mesir dan Arab, Agus Salim selalu menggunakan bahasa Indonesia. Saat itu Hasan didaulat sebagai penerjemah.

Setiap pertanyaan dari wartawan Mesir dan Arab dijawab oleh Agus Salim menggunakan bahasa Indonesia. Setelah itu, pertemuan pindah ke ruangan lebih besar untuk menikmati jamuan yang disediakan oleh Persatuan Wartawan Mesir.

Sebelum jamuan dimulai, Ketua Persatuan Wartawan Hafiz Mahmoed mengucapkan kata welcome. Kemudian Agus Salim menjawab dengan bahasa Arab. Agus Salim mengucapkan terima kasih atas sokongan media Mesir khususnya negara-negara Timur Tengah.

Saat itu Hasan sudah bersiap-siap akan menerjemahkan jawaban Agus Salim. Ternyata, Agus Salim malah menjawab menggunakan bahasa Arab sendiri dengan fasih dan susunan bahasa yang bermutu tinggi. Jawaban Agus ini langsung membuat para wartawan terperangah. Bahkan Hafiz sampai berdiri kemudian menjabat erat tangan Agus Salim.

Agus Salim dijuluki politikus istimewa

Banyak julukan yang disematkan pada diri Agus Salim. Selama empat bulan menginap di hotel Mesir, Agus Salim dinilai sebagai ensiklopedi hidup, lincah dan penuh humor. Cara komunikasinya selalu memikat semua orang sehingga dari tiap-tiap kelompok mendapat gelar pengaguman.

Kelompok politikus menamakannya siasi mumtaz (politikus istimewa), golongan cendekiawan menyebutnya failasuf (filosof), dan kalangan wartawan menyebutnya hafi labiq (wartawan gelir, licik).

Seorang pimpinan parpol di sana pernah mengatakan bahwa Indonesia beruntung memiliki seorang diplomat sekaliber Agus Salim. Ia lincah dan cepat membaca apa yang tersembunyi dalam kepala orang lain.

Agus Salim disamakan dengan Bernard Shaw

Duta Besar Lebanon Abu Ezzedin kala itu juga menjadi pengagum Agus Salim. Ia mengatakan, seorang seperti Agus Salim itu jika terdapat di tengah-tengah masyarakat Barat, maka tidak akan kalah kesohorannya daripada filosof Inggris paling terkenal, Bernard Shaw.

BACA JUGA:   Peristiwa 16 Oktober: Berdirinya Sarekat Islam

Agus Salim dianggap tajam, cepat dan tepat reaksinya terhadap setiap ucapan atau pertanyaan yang dihadapkan kepadanya. Wartawan yang mewancarainya selalu kewalahan karena jawabannya terlalu pendek atau panjang.

Pernah ada wartawan majalah Mesir Akhabarul Yaum menanyakan pendapat tentang kota Metropolitan Kairo. Agus Salim kemudian menjawab dua patah saja.

“An Nur wan-Nar (cahaya dan api), atau surga dan neraka,” jawab Agus Salim.

Anak Agus Salim ditembak Belanda

Suatu malam saat tengah duduk di beranda atas Continental Hotel menikmati cahaya bulan, tiba-tiba Agus Salim bergurau sekadarnya. “Tiba-tiba Pak Salim menyanyikan lagu perjuangan dengan lantang dan memecah keheningan,” kata Hasan.

Saat itu semua yang hadir terdiam seperti terpukau. Lebih herannya lagi ketika melihat Agus Salim terdiam dan menangis tersedu-sedu. Tidak ada orang yang berani menanyakan kepada Agus Salim.

Kemudian Agus Salim sendiri yang memecah keheningan itu. “Lagu itulah yang dinyanyikan anak saya ketika pelor Belanda menembus dadanya,” ujar Agus Salim.

Agus Salim kemudian menunjuk seragam yang dipakai sehari-hari, sambil bercerita, “Baju inilah yang dipakainya ketika ia jatuh menjadi syahid.”

Sepertinya kalimat syahid menjadi penawar ampuh bagi hati Agus Salim yang mengalami luka dan duka setelah melihat anaknya ditembak Belanda. [has]

sumber: merdeka.com

News Feed