by

Pidato berapi-api Agus Salim bikin Amerika terperangah

Print Friendly, PDF & Email

Merdeka.com – Ketika pulang dari Mekah pada tahun 1927, cita-cita Haji Agus Salim sudah banyak didengar oleh Raja Arab Saudi. Agus ingin berjuang agar rakyat Indonesia bebas dari cengkraman bangsa asing.

Sang raja kemudian rela menggelontorkan banyak uang buat perjuangan Agus Salim menghadapi pemerintah kolonial. Uang dari Raja Arab Saudi kemudian digunakan untuk menerbitkan surat kabar. Lewat tulisan, Agus melawan Belanda. Usaha ini dilakukan bersama dengan Tjokroaminoto.

Akhirnya terbentuklah surat kabar Fadjar Asia. Media ini terbit setiap hari dengan jumlah 10-12 halaman.

Tulisan-tulisan Agus Salim di Fadjar Asia kemudian dilihat mata dunia. Dari sinilah cerita tentang pidato Agus Salim sampai didengar Amerika berawal. Berikut ini kisahnya:

Agus Salim blusukan sampai ke daerah

Saat memimpin Fadjar Asia, sebagai pimpinan Agus Salim turun langsung ke lapangan. Ia masuk ke daerah-daerah perkebunan di pedalaman pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

Ia melaporkan keadaan buruh-buruh yang diperas tenaganya dengan upah sangat minim. Agus benar-benar sedih melihat rakyat Indonesia dipaksa kerja oleh pemerintah Hindia Belanda.

Dari kisah itulah Agus Salim menulis dan berbicara mengenai penderitaan rakyat Indonesia. Bagaimana rakyat dipaksa membuka hutan belukar, diperas tenaganya dari matahari terbit sampai terbenam. Kisah itu membuat hati Agus Salim tersayat.

Pemberitaan dan pidato Agus Salim tentang penderitaan rakyat Indonesia akhirnya tersiar luas sampai negara luar. Sampai akhirnya Himpunan Serikat Buruh Belanda (Nederlands Verbond va Vakverenigingen) mengangkat Agus Salim? sebagai penasihat penuh di Konferensi Buruh Sedunia (ILO) yang berlangsung di Jenewa.

Pidato Agus Salim buat mata dunia terbelalak

Bergabung dengan ILO langsung dimanfaatkan baik oleh Agus Salim. Pidato-pidato Agus Salim dalam konferensi itu langsung membuat mata dunia terbuka. Wakil-wakil negara langsung terbelalak mendengar tentang kekejaman yang dilakukan oleh pemerintah Belanda di Indonesia.

BACA JUGA:   Saat Agus Salim Jadi Intelijen Belanda & Memata-matai Sarekat Islam

Pidato Agus Salim ketika itu diucapkan dalam berbagai bahasa; Belanda, Inggris, Prancis dan Jerman. Pidato itu telah membuka mata bangsa kulit putih seperti Amerika Serikat.

Gara-gara pidato Agus Salim itulah, Amerika kemudian meninjau kembali politik perdagangannya dengan Belanda. Amerika tak mau lagi membeli hasil perkebunan Hindia Belanda yang diperoleh dari kerja paksa.

Agus Salim saat itu dua kali menghadiri konferensi ILO di Jenewa sebagai penasihat NVW.

Ratusan tahun kekayaan Indonesia diisap

Pada zaman kolonial atau zaman penjajahan Belanda dulu, kekayaan Indonesia diisap habis selama ratusan tahun. Bertahun-tahun Belanda menjajah Indonesia seperti tak ada puasnya.

Indonesia dengan hasil bumi dan palawija yang melimpah ruah selalu menjadi incaran bangsa kulit putih. Tiap bulan hampir hutan ditebang untuk dijadikan lahan pertanian baru, pertambangan dan perkebunan. Mereka menggunakan tenaga rakyat Indonesia untuk menggarap lahan-lahan tersebut.

Praktiknya pun tidak manusiawi. Mereka mempekerjakan kuli kontrak dengan pembayaran minim tetapi diminta kerja maksimal.

Contohnya penderitaan para kuli kontrak di Sumatera. Ada sepasang suami istri hidup amat menyedihkan. Tiap hari mereka makan tanpa lauk pauk. Sebagai kuli kontrak, gaji mereka 41 sen per hari atau f12,30 per bulan. Padahal kerja mereka berat. Dari pagi hingga petang.

Dipaksa bekerja bikin jalan raya

Kisah ini terjadi di Ogan Ulu, Sumatera Selatan. Di tempat itu rakyat dipaksa bekerja untuk membuat jalan raya. Mulai dari mengumpulkan batu kerikil, pasir dan tanah merah sampai ke pekerjaan menggali serta mengecor aspal.

BACA JUGA:   Aldie Abdurrozaq mengucapkan Selamat dan Sukses Milad Syarikat Islam ke-115 Tahun

Mereka dipaksa bekerja seharian tanpa dikasih makan dan minum, apalagi upah. Istirahat juga tak diperbolehkan, kecuali yang jatuh sakit. Praktik semacam ini telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Pemuda dan orangtua wajib ikut kerja paksa ini. Kecuali untuk anak-anak kecil tidak diwajibkan. Akibat kerja paksa ini, banyak warga yang jatuh sakit dan mati karena kelaparan.

Agus Salim juga mendengar cerita lain, ada rakyat yang dipaksa berjalan puluhan kilometer untuk bekerja di hari Jumat. “Ini merupakan tindakan yang menampar muka umat Islam, merendahkan derajat umat Islam dan menghina agama Islam,” kata Agus Salim.

Perjuangan Agus Salim berbuah manis

Setalah pulang dari Jenewa, Agus Salim kemudian menceritakan kisahnya kepada teman seperjuangannya. Terutama soal perbudakan.

Ketika itu Partai Serikat Islam mengambil prakarsa untuk mengadakan aksi serempak menuntut dihapuskannya perbudakan. Pada 4 Mei 1930, rakyat di berbagai pelosok desa dan kota turun ke jalan mengadakan protes terhadap penindasan dari kaum kolonial.

Perjuangan ini akhirnya membuahkan hasil. Pemerintah Hindia Belanda langsung menanggapinya dengan serius kritikan dan peringatan dari para pimpinan pergerakan.

Pada akhir tahun 1930, sistem kuli kontrak yang sangat memiskinkan rakyat Indonesia dihapus. Tanah milik rakyat Indonesia berangsur-angsur dikembalikan.

Kisah perjuangan Agus Salim ini ditulis oleh Kusniyati Mochtar dengan tema Agus Salim Manusia Bebas dalam buku “Seratus Tahun Haji Agus Salim” yang diterbitkan Sinar Harapan. [has]

sumber: merdeka.com

News Feed