by

4 Kisah bahasa asing Haji Agus Salim bikin orang terkagum-kagum

Print Friendly, PDF & Email

Merdeka.com – Haji Agus Salim dikenal sebagai negarawan dengan kecerdasan luar biasa. Salah satu kemampuannya yang banyak dipuji di dalam dan luar negeri adalah menguasai banyak bahasa.

“Kepandaiannya luar biasa. Dalam seratus tahun hanya lahir satu manusia semacam itu,” puji Bung Hatta.

Haji Agus Salim dikenal menguasai banyak bahasa, sedikitnya sembilan bahasa. Dia menularkan kemampuan berbahasa asing itu kepada anak-anaknya. Sejak kecil, anak-anaknya sudah lancar berbahasa Belanda. Berikut kisah tentang kemampuan bahasa asing Haji Agus Salim yang mengundang pujian seperti dirangkum merdeka.com:

Inggris dan Prancisnya dipuji saat konferensi di Jenewa

Tahun 1930, Agus Salim menghadiri Konferensi Buruh Internasional di Jenewa. Dia hadir didaulat sebagai penasehat delegasi buruh Belanda.

Di dalam konferensi, Haji Agus Salim berpidato memakai bahasa Inggris. Pidato yang baik dan bagus itu mendapatkan pujian dari peserta konferensi.

Terpantik oleh bagusnya pidato dia, ada seorang peserta menantang Agus Salim berpidato dalam bahasa Prancis di lain waktu. Saat Agus Salim mendapatkan gilirannya, dia berpidato dalam bahasa Prancis. Hal itu didahului dengan permintaan izin dia untuk diperkenankan memakai bahasa Prancis.

Permintaan peserta konferensi yang terkesan tantangan itu dengan mudah dia penuhi. Pidatonya dalam bahasa Prancis memperoleh pujian. Hal yang sama dia peroleh pada pidato awal via bahasa Inggris.

Menurut Mohamad Roem, ‘anak didik’ Agus Salim sebelum masa kemerdekaan, orang Belanda anti ucapkan pujian, bahkan penghargaan pun tidak. Dia menilai pujian orang Belanda terhadap Agus Salim itu sangat menonjol. Apalagi orang Belanda terikat perasaan, jika bangsa Indonesia masih terbelakang.

Bahasa Arabnya sangat fasih

Haji Agus Salim yang akrab dipanggil Pak Salim merupakan sosok politisi istimewa di benak masyarakat dan cendekiawan Mesir.? Kemampuan berbahasa asing salah satu tokoh elit Sarekat Islam (SI) ini sempat memukau khalayak Mesir. Hal itu seperti kesaksian M. Zain Hasan, aktivis 1947, yang mencari dukungan Mesir (Liga Arab) untuk Indonesia.

BACA JUGA:   5 Pahlawan Nasional Ini Diabadikan Kisah Hidupnya Lewat Film

Saat berkunjung ke Mesir, Pak Salim mengadakan tiga kali ceramah dengan tiga bahasa yang berlain-lainan. Ceramah itu diucapkan lewat bahasa Prancis di Institut Geografi Kerajaan, bahasa Inggris di Aula Universitas Fouad I (Universitas Kairo sekarang), dan bahasa Arab di Gedung Persatuan Wartawan Mesir.

Gedung Persatuan Wartawan Mesir adalah saksi bisu dia mengejutkan para pewarta Mesir waktu itu. Tak ada yang mengira Pak Salim akan berpidato dengan bahasa Arab. Mulanya Pak Salim memberi penerangan dan menjawab pertanyaan mengenai Indonesia dalam bahasa Indonesia. M. Zain Hasan adalah orang yang diminta menjadi petugas penterjemah ke bahasa Arab.

Kejadian itu dimulai ketika acara perjamuan yang disediakan Persatuan Wartawan Mesir untuk menghormati Pak Salim. Ketua Persatuan Wartawan Mesir, Hafiz Mahmoed, memulai sambutan dengan ucapan welcome, persahabatan dan persaudaraan Islam yang iklhas dan akrab. Sekonyong-konyong Pak Salim menjawab sambutan tersebut. Jawaban dengan irama serupa, serta terima kasih atas sokongan media massa Mesir dan negara Timur Tengah diucapkan fasih dalam bahasa Arab.

M. Zain Hasan terkejut, sebelumnya dia telah bersiap-siap untuk menterjemahkan. Diiringi ngangaan hadirin, Pak Salim langsung berbicara dalam bahasa Arab fasih, kata-kata halus terpilin dalam susunan bermutu tinggi.

Hadirin bergemuruh tepuk tangan tanda kekaguman dan penghargaan. Hafiz Mahmoed pun tergesa menjabat tangan Pak Salim dengan semesara-mesranya.

Pujian dari Belanda

Prof Schermerhorn yang mewakili Belanda dalam perundingan Linggarjati memiliki kesaksian sendiri soal kemampuan berbahasa asing Haji Agus Salim. Dia menuliskan tersendiri dalam buku hariannya terbit tahun 1970, Senin malam 14 Oktober 19.46 pukul 21.15.

“Saya khusus ingat kepada Salim yang pada suatu hari akan saya undang ke istana sini. Orangtua yang sangat pintar ini seorang jeni dalam bahasa, bicara dan menulis dengan sempurna dalam sembilan bahasa. Dia hanya memiliki satu kelemahan yaitu: bahwa selama hidupnya melarat.”

BACA JUGA:   Harley Mangindaan: Syarikat Islam Banyak Beri Sumbangsih untuk Indonesia

Bahkan paham bahasa kambing

Jef Last, penulis Belanda yang berkenalan dengan Haji Agus Salim ketika Agus Salim menemui tokoh SDAP PJ Troelstra di Belanda pada 1930. Cerita Jef Last ini dimuat dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim terbitan Sinar Harapan.

Jef Last mengutip cerita Sutan Sjahrir kepadanya. “Kami sekelompok besar pemuda, bersama-sama mendatangi rapat di mana Pak Salim akan berpidato dengan maksud mengacaukan pertemuan itu. Pada waktu itu Pak Salim telah berjanggut kambing yang terkenal itu dan setiap kalimat yang diucapkan Pak Haji disahut oleh kami dengan mengembik yang dilakukan bersama-sama. Setelah ketiga kalinya kami menyahut dengan “me, me, me” (mbek), maka Pak Salim mengangkat tangannya seraya berkata.

“Tunggu sebentar. Bagi saya sungguh suatu hal yang sangat menyenangkan bahwa kambing-kambing pun telah mendatangi ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya. Hanya sayang sekali bahwa mereka kurang mengerti bahasa manusia sehingga mereka menyela dengan cara yang kurang pantas. Jadi saya sarankan agar untuk sementara tinggalkan ruangan ini untuk sekadar makan rumput di lapangan. Sesudah pidato saya ini yang ditujukan kepada manusia selesai, mereka akan dipersilakan masuk kembali dan saya akan berpidato dalam bahasa kambing khusus untuk mereka. Karena di dalam agama Islam, bagi kambing pun ada amanatnya dan saya menguasai banyak bahasa.”

“Kami tidak tinggalkan ruangan,” kata Sjahrir. “Tetapi kami terima dengan muka merah gelak tawa dari hadirin lainnya,” imbuhnya. Masih menurut Sjahrir, sesudah peristiwa itu para pemuda masih melawannya. “Tetapi tidak pernah lagi kami mencemoohkannya,” ujar Sjahrir dikutip Jef Last. [tts]

 

sumber: merdeka.com

News Feed