by

6 Kisah Haji Agus Salim dilanda kemelaratan

Print Friendly, PDF & Email

Merdeka.com – Sedih memang kalau mengingat masa-masa susah Haji Agus Salim. Ia adalah orang yang berpendidikan, pintar dan berkemampuan tinggi. Jika dia mau bekerja pada pemerintahan Hindia-Belanda, ia bisa hidup enak layaknya keluarga lain.

Namun rupanya itu tidak ia pilih. Sikapnya yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan kolonialis harus dibayar mahal. Tahun 1912 adalah masa-masa sulit bagi Haji Agus Salim dan keluarga.

Sejak keluar dari dinas pemerintah, kantor BOW, dan memilih memasuki dunia pergerakan pada 1915 hidupnya adalah seorang partikelir. Hidupnya selalu susah dan miskin.

Padahal kala itu Agus Salim tengah membangun keluarga baru. Anak-anaknya masih kecil, sedangkan pendapatan Agus Salim tak jelas dan pas-pasan. Namun bagi Agus hal itu tidak menjadi masalah.

Demi sebuah prinsip kebenaran, Agus Salim rela hidup melarat hampir selama 25 tahun. Kalau menengok sekarang, mana ada pejabat rela hidup susah demi berjuang untuk negaranya.

Hari ini merdeka.com merangkum kisah Haji Agus Salim dilanda kemelaratan seperti dikutip dalam buku “Seratus Tahun Haji Agus Salim” yang diterbitkan Sinar Harapan:

Sewa rumah jelek

Pada periode paling susah, Haji Agus Salim pernah sampai pindah rumah puluhan kali. Padahal waktu itu ia sudah berkeluarga. Istrinya, Zaenatun Nahar dan delapan anaknya diboyong ke sana kemari.

Tak terbayang repotnya Agus Salim saat itu. Apalagi anak-anaknya masih kecil.

Suatu hari hidup keluarga Agus Salim boleh dibilang mulai enak dan sudah memiliki penghasilan tetap sebagai seorang wartawan. Jabatannya pun strategis yaitu sebagai seorang pemimpin redaksi sebuah surat kabar.

Keluarganya lalu pindah ke rumah cukup baik dan layak huni. Kondisi mapan itu rupanya tidak bertahan lama. Tulisan-tulisan Agus Salim yang kritis terhadap penguasa rupanya membuat pemodal surat kabar itu gerah. Agus Salim akhirnya dipecat.

BACA JUGA:   Sarekat Islam Bandung Dilarang Ikut Campur Urusan Masjid

Kondisi ekonomi keluarga Agus Salim kemudian kembali terpuruk. Hidupnya pindah-pindah terus dari rumah satu ke rumah lain. Karena tak punya uang cukup, Agus Salim menyewa rumah sederhana.

Rumah tanpa listrik

Agus Salim dan keluarga kemudian menyewa rumah buat tempat tinggal. Jangan bayangkan besar dan mewah. Agus Salim hanya menyewa rumah yang ukurannya kecil dan jelek. Karena tak punya uang.

Lokasi rumahnya juga jelek. Jalanan masih becek. Untuk menuju rumah Agus Salim, gang yang dilewati kotor dan pengap. Hampir rumah yang ditempati Agus baik di JakartaSurabaya dan Yogyakarta sama, jelek.

Di Jakarta, Agus Salim pernah tinggal di daerah Tanah Abang, Karet, Jatinegara, Gang Kernolong, Gang Toapekong dan Gang Listrik. Di tempat-tempat itulah Agus Salim menyimpan banyak kenangan. Misalnya saat tinggal di Gang Listrik, justru di alamat itu Agus Salim hidup tanpa listrik. Jika malam hari, keadaan rumah Agus gelap gulita.

Bukan tidak ada listrik di gang tersebut. Tapi karena saat itu tidak mampu membayar listrik.

Kekurangan uang belanja

Kehidupan Agus Salim saat itu seringkali menjadi bahan tertawaan. Orang-orang yang melihat hanya tertawa dan geleng-geleng kepala.

Tak mudah bagi istri Agus Salim menghadapi situasi itu. Serba kekurangan, termasuk uang belanja. Zaenatun harus terus memutar otak untuk mencari akal agar anak-anaknya dapat makan. Buat pasangan suami-istri muda zaman sekarang keadaan seperti itu mungkin tak terbayangkan melihat suami sok megang prinsip, tapi menghadapi kesulitan ekonomi.

BACA JUGA:   Sejarah dan Rekam Jejak MUI 5 Tahun di Politik Nasional

Tapi bagi Agus Salim dan istri, keadaan sulit malah membuat akrab, gembira dan cukup bahagia. Agus Salim punya resep agar keluarganya selalu mensyukuri nikmat Tuhan. Agus Salim adalah orang yang tawakal, pasrah dan selalu bersyukur kepada Tuhan.

Setiap hari, suasana keluarga dibangun dengan penuh humor dan optimis. Agus Salim rajin ibadah dan selalu menunjukkan kasih sayangnya kepada keluarga.

Makan nasi hanya pakai kecap

Saat uang belanja menipis, istri Agus Salim tak punya uang untuk membeli lauk pauk. Di dapur hanya tersisa nasi.

Melihat itu, Agus Salim tak kehilangan akal. Ia kemudian menyingsikan lengan bajunya dan langsung membuat nasi goreng. Dalam suasana ceria kemudian keluarganya makan bersama-sama. Anak-anaknya merasa mendapat ‘traktiran’ yang istimewa dari sang ayah.

Atau di suatu hari juga pernah hanya ada nasi panas. Namun anak-anak Agus juga bisa menerima. Cukup dicampur kecap, mentega mereka dengan lahap makan nasinya. Dalam suasana riang, mereka tak menyadari makan nasi tanpa lauk pauk.

WC rusak, Agus Salim buang pispot istri

Pada suatu hari Agus Salim menempati rumah buruk yang kakusnya sudah rusak. Apabila disiram maka meluaplah isi kakus tersebut.

Melihat ini, Zaenatun benar-benar tak tahan. Tiap kali ke WC, ia muntah-muntah karena jijik.

Namun Agus Salim tak tinggal diam. Ia tak tega melihat istrinya menderita. Selanjutnya Agus Salim melarang istrinya menggunakan WC rusak tersebut. Dan ia sendiri yang setiap hari membuang pispot istrinya. [has]

sumber: merdeka.com

News Feed