by

Kisah Haji Agus Salim berpesan kepada anaknya soal jodoh

Print Friendly, PDF & Email

Merdeka.com – Haji Agus Salim diketahui cemas akibat perkawinan antar saudara dekat yang selama puluhan tahun di lingkungan keluarganya. Untuk ini sampai Haji Agus Salim menempuh satu cara yang berat, yaitu pantang daging, sampai 18 tahun lamannya. Tujuannya untuk pemurnian darah demi pencegahan degenenerasi selanjutnya.

Ada lagi cara yang dianjurkannya kepada anak-anaknya, juga dengan tujuan penyegaran darah dan perbaikan keturunan. Terutama ia menganjurkan kepada anak-anaknya, setelah mereka dewasa, agar memilih jodoh di luar kampung asal Kota Gadang, lagi pula calon yang dipilih harus berbadan sehat, dan beragama Islam. Berikut ini cerita tentang jodoh putra-putri Haji Agus Salim dirangkum dari cuplikan Riwayat Hidup Haji Agus Salim oleh Kustiniyati Mochtar:

4 Anaknya ikuti pesan ayah

Saran-saran soal jodoh oleh Haji Agus Salim mendapat perhatian dari anak-anaknya dan tak menimbulkan persoalan pada anak pertamanya Theodora Atia (Dolly) atau anak keduanya Jusuf Tewfik Salim (Totok). Dolly dan Totok ketemu jodoh bukan dari kampung halaman melainkan dari Jawa. Dolly menikah dengan Soedjono Hardjosoediro dulu rektor Universitas Islam Djakarta dan juga salah satu pendiri Universitas Nasional. Sementara Totok menikah dengan wanita Jawa Agustine Budiarti.

BACA JUGA:   M. Tabrani, Ketua Kongres Pemuda Pertama dan Penggagas Bahasa Indonesia, Ternyata Orang Madura

Sementara itu anak keenam Islam Salim menikah juga dengan wanita Jawa Arsyana dan anak kedelapan Siti Asiah atau Bibsy menikah dengan Soenharyo. Satu lagi anak Haji Agus Salim yang mengikuti pesan sang ayah adalah putra bungsunya Ciddiq yang menikah dengan gadis Bali Anak Agung Ayu Okka.

Boleh dikata, keempat anaknya ini mengikuti pesan dari Haji Agus Salim agar berjodoh dengan orang dari lain kampung.

“Masalah” datang dari Yoyet

Anak ke-3 Haji Agus Salim, Yoyet datang dengan “masalah” bahwa ia justru ingin menikah dengan orang sekampung, yang masih ada hubungan family pula. Namanya Joahan Syahruzah. Banyak yang bilang, Yoyet yang lincah dan kecil mungil, dulunya punya banyak calon-calon pacar. Ternyata dipilihnya kemudian untuk calon suami adalah orang sekampung juga, sesuatu yang mulanya tak dapat disetujui oleh Haji Agus Salim.

Tampak di sini, keadaan agak terbalik. Biasanya seorang Ayah menginginkan orang sekampung, anaknya ingin menikah ke luar. Dalam hal Yoyet, Haji Agus Salim ingin ia dapat orang lain daerah, Yoyet menginginkan orang sekampung. Dan mungkin Yoyet tak berbeda dari Ayahnya, pintar berdiplomasi dan membujuk, sehingga akhirnya keinginannya telaksana. Ia menikah dengan Johan Syahruzah, membentuk keluarga bahagia dan memperoleh 5 anak.

BACA JUGA:   Peringati Hari Pahlawan di Masa Pandemi, 300 Siswa Bakal Ikuti Heroic Track Virtual

Adek dengan orang sekampung

Lain lagi apa yang dialami oleh Maria Zenobia (Adek), putri ke-3 Agus Salim. Sebagai gadis remaja ia pernah mempunyai hubungan kasih yang serius dengan pemuda dari Jawa. Dari segi daerah asal, Haji Agus Salim sangat setuju. Tetapi pemuda ini tidak sehat badannya, ia mengidap sesuatu penyakit yang tidak ringan untuk waktu itu. Hubungan kurang disetujui oleh ayahnya. Pemuda ini kemudian meninggal dunia, suatu pengalaman berat yang membuat Adek hidup membujang agak lama. Setelah itu ia baru menginjak masa berikutnya dimana ia menikah dengan Hazil Tanzil, orang sekampung yang adalah adik kandung Johan Syahruzah, suami Yoyet.

Sesungguhnya, apa yang diinginkan oleh Agus Salim sekitar jodoh anak-anaknya, terkabul adanya.

Bagi Ade, pengungkapan kisah lama tentang dirinya ini mungkin tidak terasa begitu enak, tetapi bagaimanapun ia menyadari betapa pentingnya hal itu disebutkan untuk menampilkan citra ayahnya dengan lebih jelas kepada umum. Betapa konsekuen ia dulu dalam menghadapi permasalahan jodoh buat anak-anaknya. [tts]

sumber: merdeka.com

News Feed