by

4 Kisah Agus Salim buka tabir pria dan wanita

Print Friendly, PDF & Email

Merdeka.com – Bung Karno pernah tertarik dengan pemikiran Agus Salim soal usaha membuka tabir antara pria dan wanita. Bagi Bung Karno , tabir adalah simbol perdukaan yang tidak dikehendaki oleh Islam. Demikian menariknya tabir bagi Bung Karno .

Menurut Bung Karno , Agus Salim pemikirannya sudah jauh ke depan soal tabir pria dan wanita. Terutama kedudukan seorang perempuan di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Tradisi tabir antara pria dan wanita terkesan ada semacam pemisahan. Pria diberikan kebebasan bergerak, sedangkan wanita sebaliknya. Saat itu pria diperbolehkan mengeyam dunia pendidikan formal dan berorganisasi. Sementara perempuan malah dibatasi.

Zaman sekarang, pemisahan itu masih ada. Padahal, sejak dulu Agus Salim sudah berusaha menghapus tabir yang menjadi penyekat pria dan wanita. Berikut ini kisah Agus Salim membuka tabir pria dan wanita:

Agus Salim sobek kain

Pemikiran Agus Salim dalam membuka tabir ini juga didukung oleh Bung Karno . Menurut Bung Karno , pemikiran Agus Salim adalah sebuah langkah berani.

Ceritanya saat itu Bung Karno hadir dalam kongres Muhammadiyah pada 1939 di Medan. Saat itu ia keluar dari sidang sebagai bentuk protes tentang tabir.

Menurut Bung Karno , tabir adalah simbol perbudakan yang tidak dikehendaki oleh Islam. “Saya ingat bahwa dulu Haji Agus Salim pernah merobek tabir di salah satu rapat umum, ya merobek terang-terangan.”

BACA JUGA:   4 November 1954 Agus Salim Meninggal Dunia

Bagi Bung Karno , tindakan Agus Salim patut diacungi jempol. “Sebab perbuatan demikian itu minta keberanian moral yang sangat besar.”

Ini adalah salah satu kelebihan yang dimiliki Agus Salim. Usaha Agus Salim kini dapat dinikmati generasi masa kini.

Tolak pemisahan pria dan wanita

Pada tahun 1925, saat pelaksanaan kongres JIB di Yogyakarta kala itu tempat duduk peserta pria dan wanita dipisah. Pemisahan dilakukan menggunakan tabir.

Kala itu duduknya dipisah menggunakan tabir (kain putih). Peserta perempuan tempatnya di belakang laki-laki. Pemisahan itu dilakukan karena dipengaruhi oleh kongres-kongres perkumpulan Islam yang sering diadakan di Yogyakarta.

Situasi inilah yang membuat Agus Salim gelisah. Saat JIB menggelar kongres kedua di Solo pada akhir 1927, Agus Salim sebagai penasihat JIB langsung memberikan usul soal tabir.

“Tidak termasuk di dalamnya bahwa orang perempuan harus dipisahkan, apalagi disendirikan. Bahwa memisahkan orang perempuan itu adat kebiasaan Arab. Adat kebiasaan itu mungkin termasuk kepercayaan golongan Yahudi dan Kristen.”

Perjuangkan emansipasi

Agus Salim juga pernah mengkritisi budaya dan tradisi kala itu terutama kehidupan yang sifatnya tradisional. Seperti yang dialami oleh Raden Ajeng Kartini di penghujung abad ke-19.

Kala itu masih adanya kawin paksa dan tradisi dan kebiasaan tetap tinggal di rumah bagi seorang gadis yang sudah menginjak dewasa. Tentu saja tradisi itu tidak sesuai dengan ajaran Islam.

BACA JUGA:   Sarekat Islam Bandung Dilarang Ikut Campur Urusan Masjid

Menurut Salim, pada umumnya umat Islam kala itu masih terbelenggu oleh tradisi dan kebiasaan generasi sebelumnya.

Salim juga meluruskan terhadap pandangan-pandangan bahwa untuk mencari Islam itu dengan melakukan sesuatu yang sebaliknya dari kebiasaan dilakukan di kalangan terpelajar pada umumnya. Salah satunya bebas melakukan pertemuan, perjamuan, bepergian dengan kendaraan umum secara terbuka tanpa tutup kepala, di mana orang perempuan menjadi pusat penglihatan laki-laki.

Gerak perempuan dibatasi

Saat itu perempuan tidak bisa leluasa. Dalam hal apapun. Baik dari pendidikan dan organisasi semuanya dibatasi. Sementara laki-laki bisa bergerak bebas.

Agus Salim juga menilai, mayoritas perempuan saat itu masih diliputi oleh keterbatasan dan ketergantungan. Sehingga perempuan tidak bisa bergerak dan berpikir kreatif dan kritis.

Contohnya adalah pada tahun 1925. Saat itu sedang digelar kongres JIB di Yogyakarta. Ketika kongres digelar ada tabir antara peserta perempuan pria dan wanita.

Duduknya dipisah menggunakan tabir (kain putih). Peserta perempuan tempatnya di belakang laki-laki. Pemisahan itu dilakukan karena dipengaruhi oleh kongres-kongres perkumpulan Islam yang sering diadakan di Yogyakarta.

Situasi inilah yang membuat Agus Salim gelisah. Saat JIB menggelar kongres kedua di Solo pada akhir 1927, Agus Salim sebagai penasihat JIB langsung memberikan usul soal tabir. [has]

sumber: merdeka.com

News Feed