by

5 Keprihatinan Haji Agus Salim soal partai politik

Print Friendly, PDF & Email

Merdeka.com – Pada 1950, Haji Agus Salim menerima surat yang meminta kesediaannya untuk dipilih sebagai ketua umum dalam kongres Partai Sarekat Islam Indonesia. Atas permintaan ini, Haji Agus Salim menolak lewat surat yang ditulis panjang beserta alasan-alasannya.

Dari surat yang dikirimkan kepada Zein Arief tertanggal 26 Maret 1950 itulah, termuat saran dan pemikiran Haji Agus Salim tentang bagaimana seharusnya partai politik bergerak. Pemikiran Haji Agus Salim itu masih relevan dengan situasi saat ini.

Dari surat itu jugalah tercermin sikap Haji Agus Salim sebagai sosok yang tidak pernah mengejar kedudukan. “Hidup bagi Haji Agus Salim adalah perjuangan dan perjuangan ini beliau lakukan tanpa pamrih. Bukan kedudukan yang beliau kejar. Bahkan kedudukan tinggi sedia beliau korbankan jika dirasakan tidak sesuai dengan prinsip yang dianutnya,” demikian kesan kemenakannya Emil Salim yang tertuang epilog buku Seratus Tahun Haji Agus Salim.

Berikut 4 keprihatinan dan pandangan Haji Agus Salim soal partai politik yang disarikan dari suratnya untuk Zein Arif:

Partai politik terlalu menuntut kursi kabinet

Haji Agus Salim sadar kehidupan demokrasi di Indonesia (saat itu) masih lemah. Dia menyesalkan partai-partai dengan anggota besar yang terlalu banyak menuntut kursi kabinet. Berikut petikan surat Haji Agus Salim:

“Terlebih ngeri setelah mengalami, bahwa partai-partai dengan dasar besar jumlah bilangan anggotanya, bukan saja menuntut bagian kursi yang tertentu dalam dewan menteri melainkan malah hendak menentukan mana-mana kursi itu, dan siapa-siapa orangnya yang dikehendakinya menduduki tiap-tiap kursi itu. Kerap kali dengan tidak memandang pelajaran, kecakapan, dan pengalaman yang lalu.

Adapun negara kita yang baru saja berdiri, telah mengalami pertukaran menteri-menteri berulang-ulang. Dalam selama masa hidup republik yang baru 4 tahun 4 bulan umurnya dari mula berdiri sampai saat pendirian RIS, beberapa kementerian yang penting sudah menjalani pertukaran menteri, ada yang sampai 6 kali dan kecuali Kementerian Luar Negeri, tidak ada yang kurang daripada 3 kali.”

Partai politik terlalu mementingkan jumlah anggota

Haji Agus Salim menyesalkan partai politik yang terlalu memikirkan jumlah anggota dan tidak sadar apakah mereka memiliki kemampuan memimpin:

“Tetapi marilah kita kembali ke pangkal pemandangan yang tadi itu yaitu bahwa saya ngeri melihat partai-partai terlalu mementingkan besar jumlah bilangan anggotanya. Tambahan lagi, tuntutan yang didasarkan jumlah bilangan itu biasanya ditambah pula “kehebatannya” dengan mengadakan demonstrasi arak-arakan atau rapat raksasa, rapat samudra, – kelak barangkali rapat cakrawala-, untuk memperlihatkan “dahsyatnya” jumlah rakyat yang dapat digerakkan untuk menyokong tuntutan-tuntutannya.

BACA JUGA:   4 November 1954 Agus Salim Meninggal Dunia

Padahal, manakah partai yang ada persiapan atau kelengkapannya pemimpin pucuk, pemimpin umum, pemimpin besar, pemimpin daerah dan pemimpin ranting di lapisan bawah dalam kalangan rakyat ramai, dan pemimpin-pemimpin yang mungkin mencukupi syarat untuk mendidik, menunjuki, mengajar dan memimpin rakyat ramai, sampai beribu, berlaksa, berketi, berjuta bilangannya itu? tentang ini boleh kita pastikan, bahwa rata-rata partai besar-besar, yang membanggakan besarnya angka-angka jumlah anggota dan pengikutnya tidak mempunyai persiapan dan kelengkapan pimpinan di segala tingkatan itu.”

Jika partai politik berebut kekuasaan akan lupa rakyat

Haji Agus Salim mengingatkan partai politik yang lupa pendidikan politik untuk rakyat tetapi lebih mengejar kekuasaan:

“Bahwa partai-partai besar sudah mesti tahu bahwa mereka tak dapat mengharap akan sungguh-sungguh mendidik menunjuki rakyat, mematangkan, mencerdaskan oaham pengertian rakyat itu, membangunkan, menghidupkan budi pikiran mereka, supaya tahu menimbang, tahu membanding sendiri sebagaimana yang dikehendaki oleh azas demokrasi yang sesungguhnya.

Saya ngeri memikirkan bahaya yang mungkin menimpa atas rakyat umumnya yang terlebih besar jumlahnya. Rakyat yang tidak turut melayani politik dan membiarkan saja partai-partai yaitu tegasnya pemimpin-pemimpin partai politik berebut-rebut masing-masing hendak menguasai politik dan kekuasaan atas negara dan sekalian rakyat. Ngeri memikirkan kalau-kalau akan datang kelak suatu masa yang rakyat itu melihat negaranya dan dirinya telah tunduk kepada kekuasaan sesuatu diktator, yang menghapuskan segala hak hak kemerdekaan atas nama kemerdekaan dan kedaulatan mereka bersama.”

Pendidikan politik sebaiknya dilakukan oleh sosok tidak berpartai

Menurut Haji Agus Salim gerakan pendidikan politik sebaiknya dipelopori oleh pihak Islam mengingat besarnya jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia. Tetapi gerakan pendidikan ini tidak bermaksud untuk menarik orang agar masuk partai Islam. Yang dituju adalah agar semua Muslimin dalam partai apapun memperoleh tuntutan yang menghidupkan semangat dan meninggikan derajat pengetahuan, pengertian dan pahamnya tentang Islam. Petikan dari surat Haji Agus Salim:

“Gerakan ini tidak harus bertujuan menarik orang-orang dari partai partai mereka masuk ke dalam sesuatu partai Islam. Dengan mengingat bahwa agama Islam pun mengajarkan bahwa orang masing-masing boleh ada tujuan kebajikan, yang tidak melanggar agama, diutamakannya lebih daripada tujuan yang lain, gerakan ini harus mengusahakan supaya sekalian kaum Muslimin dalam partai apapun jua mendapat penerangan dan tuntunan yang menghidupkan semangat dan meninggikan derajat pengetahuan, pengertian dan pahamnya tentang agamanya. Dengan begitu bolehlah agamanya itu lebih tegas menjadi pedoman bagiannya dalam kehidupan sehari-hari dan juga dalam usahanya untuk mencapaikan tujuan-tujuan partainya dalam berpolitik.

BACA JUGA:   Peringati Hari Pahlawan di Masa Pandemi, 300 Siswa Bakal Ikuti Heroic Track Virtual

Gerakan ini mungkin mendapat kawan-kawan yang suka bekerja sama dalam segala partai. Hanya pihak yang memulainya terlebih baik jangan tergolong di dalam sesuatu partai. Dan kerjanya tidak dibataskan terhadap orang-orang partai saja, melainkan terlebih sekali ditujukan kepada jumlah yang terbesar itu, yang tidak mencampuri kepartaian itu dan tidak terikat oleh azas, rencana tujuan dan disiplin sesuatu partai.”

Parpol berebut menteri tetapi tidak memiliki kualifikasi bagus sebagai menteri

Haji Agus Salim mempertanyakan para parpol yang menuntut banyak kursi kabinet sementara belum tentu memiliki kualifikasi tokoh bagus untuk posisi menteri:

“Bagaimanakah menteri-menteri kita itu akan dapat memahamkan tugas kewajibannya, yang kebanyakan kali dihadapinya untuk pertama kali. Bagaimanakah ia akan dapat mengenal pegawai-pegawainya itu dan memberi pimpinan kepada mereka istimewa pimpinan semangat, bersetuju dengan partainya. Bahkan bagaimanakah ia akan mengharapkan anggapan dan penghargaan akan dirinya sebagai kepala, padahal pegawai-pegawai, itu lebih paham, lebih mengerti pekerjaan mereka daripada YM menteri itu? Apalagi jika mereka dari bermula sudah boleh menerka, bahwa Yang Mulia tak akan sampai cukup setahun duduknya! Sebentar lagi mungkin ada krisis kabinet atau perobahan susunan (reshuffle) pula yang mungkin menyapu Yang Mulia dari atas kursinya.

Mengingat segala itu sungguh ajaib, yang keadaannya tidak menjadi lebih kacau, lebih kalut daripada yang sudah kita ketahui. Ajaib sampai seakan-akan merupakan mukjizat, yang Republik kita dapat mengatasi segala kesulitan, menyingkarkan segala aral rintangan di jalan yang ditempuhnya selama 4 tahun 4 bulan itu dengan tidak menemui ajalnya, musnah, terhapus dari keadaan! Malah akhirnya dapat menghapus kekuasaan penjajahan dengan pasti dan dengan penyaksian seluruh dunia para negara (internasional).” [tts]

sumber: merdeka.com

News Feed