by

5 Kisah menarik Haji Agus Salim tak pernah sekolahkan anaknya

Print Friendly, PDF & Email

Merdeka.com – Haji Agus Salim dikenal sebagai sosok yang sangat mengharapkan tumbuhnya sikap kebebasan di kalangan pemuda terpelajar. Di samping itu, dia juga dikenal cenderung kepada ide kesatuan atau non dikotomi dalam segala hal yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia.

Oleh karena itu sebagai tindakan protesnya terhadap sistem pendidikan kolonial Belanda, Haji Agus Salim dalam mendidik anak-anaknya tidaklah dimasukkan ke sekolah yang sejenis dan semacamnya. Akan tetapi Haji Agus Salim bersama istrinya berusaha sendiri menyelenggarakan pendidikan anak-anaknya di rumah.

Haji Agus Salim dikenal memiliki 10 putra dan putri, dua di antaranya meninggal saat masih kecil yaitu Abdul Hadi anak ketujuh dan Zuhra anak kesembilan. Kedelapan anak lainnya berurutan adalah Theodora Atia (Dolly), Jusuf Tewfik Salim (Totok), Violet Hanifah (Jojet), Maria Zenobia (Adek), Ahmad Sjewket Salim (gugur dalam pertempuran di Lengkong, Islam Salim, Siti Asiah, dan Mansur Abdur Rachman Ciddiq selaku bungsu. Dengan menjadi pendidik bagi anak-anaknya, Haji Agus Salim dikenal sebagai pelopor homeschooling di Indonesia. Berikut kisah-kisah menarik Haji Agus Salim dalam mendidikan anak-anaknya di rumah dirangkum merdeka.com, dari cerita Kustiniyati Mochtar dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim dan M Roem, dari buku Bunga Rampai Sejarah:

Sejak bayi anak-anaknya bicara Belanda

Menurut Kustiniyati Mochtar, ciri khas pendidikan Haji Agus Salim kepada anak-anaknya adalah sejak bayi diajak bicara bahasa Belanda. Bahasa Belanda adalah bahasa ibu bagi keluarga Haji Agus Salim. Untuk selanjutnya pada usia 3-4 tahun, mereka hanya menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa untuk komunikasi.

M Roem punya cerita menarik soal ini. Tahun 1925 dia berkenalan dengan keluarga Haji Agus Salim. Selanjutnya, keluarga Haji Agus Salim menganggap M Roem sebagai saudara sepupu. Saat bertamu ke rumah Haji Agus Salim, keluarlah Sjewket yang masih bocah. Sjewket masih berusia empat tahun dan minta digaruk ayahnya karena punggungnya gatal. M Roem heran, bagaimana anak sekecil itu sudah bisa meminta digaruk dan menjelaskan bahwa punggungnya gatal kepada ayahnya dalam bahasa Belanda yang sangat lancar. Barulah M Roem menyadari, Haji Agus Salim bicara bahasa Belanda dengan anak-anaknya sejak lahir.

Orang tidak percaya anaknya tidak pernah sekolah

Meskipun cara mendidik anak-anaknya di rumah tidak seperti pendidikan di sekolah, yaitu dengan suatu aturan waktu dan tempat yang mengikat, demikian pula dengan menggunakan kurikulum yang tersusun rapi dan lengkap, tetapi hasil pendidikan Salim dan istrinya tidak mengecewakan, bahkan dapat dikatakan sebagai suatu prestasi yang gemilang dalam waktu itu. Sebagaimana dikatakan oleh Bung Hatta, Mr Mohammad Roem, Prof Mr Kasman Singodimedjo, dan orang-orang yang hidup sezaman dengan Haji Agus Salim, bahwa anak-anak Salim kini telah jadi orang semua meski tidak duduk di bangku sekolah.

BACA JUGA:   Sejarah dan Rekam Jejak MUI 5 Tahun di Politik Nasional

Anak ketiga Jojet, yang menikah dengan Johan Sjahruzah (sekjen Partai sosialis Indonesia ketika itu) pernah bercerita kepada M Roem. Jojet mengaku banyak orang yang bertanya-tanya dan tidak percaya kalau Jojet tidak pernah sekolah. Bagaimana orang mau percaya kalau Jojet tidak pernah sekolah karena kalau bicara penuh dengan humor dan mengetahui bahasa-bahasa asing. Jojet juga hafal sajak dalam berbagai bahasa dan malah juga menyanyikannya. “Memang penulis dapat membayangkan sulit untuk percaya bahwa seorang seperti Nyonya Johan tidak pernah sekolah,” tulis M Roem.

Anak tidak merasa lebih rendah dari orang Belanda

Adapun yang membedakan dengan anak didik dari sekolah Belanda, antara lain bahwa anak-anak Haji Agus Salim tidak pernah merasa lebih rendah dengan anak bangsa Eropa, sebagaimana kesaksian sejarahnya yang diberikan oleh M Roem. Antara lain pada waktu anak yang bernama Theodora Atia (Dolly) bertemu dengan seorang guru sekolah lanjutan Belanda yang mengatakan bahwa “Ayah anda bahasa Belandanya bagus sekali. Ia berbicara seperti orang Belanda”. Reaksi dari Dolly, bukan lagi merasa bangga atas pujian tersebut, tetapi justru sangat marah terhadap guru yang menilai kemahiran ayahnya tersebut. oleh karena itu menurut M Roem, bahwa setelah merasakan sendiri sebagai anak didikan sekolah Belanda juga ditambah dengan kesaksian-kesaksian lain dalam beberapa peristiwa yang dijumpai di tengah kehidupan masyarakat terpelajar dalam menghadapi orang Belanda, mengatakan bahwa antara Dolly dengan orang Belanda tidaklah ada perbedaan.

Dengan kata lain ialah bagi Dolly tidaklah mengenal rasialisme atau diskriminasi rasial. Demikian pula tidak mempengaruhi terhadap sikap hidup sehari-hari, meski sedang berhadapan dengan anak bangsa Eropa. Bagi Dolly yang berlaku adalah duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

Demikianlah ide Agus Salim tentang pendidikan yang apabila disimak secara teliti terdapat beberapa beberapa petunjuk yang antara lain ialah adanya perbedaan yang mendasar antara antara pelajar didikan sekolah Belanda dengan anak-anak yang didikannya sendiri, terutama terletak pada sikap mentalitasnya. Baik segi dependency dan independencynya, maupun sikap hidup serba dikotomisnya dan non dikotomisnya, dan lain-lainnya.

BACA JUGA:   M. Tabrani, Ketua Kongres Pemuda Pertama dan Penggagas Bahasa Indonesia, Ternyata Orang Madura

Ditentang kakak

Prinsip Haji Agus Salim untuk tidak menyekolahkan anaknya bukan tanpa pertentangan. Menurut Kustiniyati Mochtar, kakak Agus Salim, Jakob Salim sering mendorong agar adiknya menyekolahkan anak-anaknya. Namun prinsip dalam diri Haji Agus Salim sangat kuat. Saran kakaknya selalu tanpa hasil.

Pada masa remajanya Tewfik Salim juga pernah meminta kepada ayahnya untuk ikut sekolah. Tetapi permintaan Tewfik Salim ini pun tidak dipenuhi karena sudah menjadi prinsip Haji Agus Salim. Lantas apa yang sebenarnya dilakukan anak-anak Haji Agus Salim di rumah? Selain mendapat pendidikan dari ayah dan ibu, keseharian mereka banyak dihabiskan dengan membaca dan membaca. Anak tertua Dolly misalnya pada usia yang sangat muda mengaku sudah melahap buku cerita Nick Carter dan Lord Lister.

Tidak melembagakan pendidikan

Dalam pendidikan, Haji Agus Salim juga mempunyai perbedaan dengan tokoh-tokoh seperjuangannya antara lain dengan KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari dan lain-lainnya. Haji Agus Salim tidak melembagakan idenya tentang pendidikan dengan suatu perguruan atau pesantren, seperti misalnya dengan mendirikan sekolah modern (Muhammadiyah), juga pondok pesantren (KH Hasyim Asy’ari, dan lain-lain)

Meskipun demikian sistem pendidikan atau pola pendidikan yang dilahirkan oleh Haji Agus Salim, seperti pola pendidikan pesantren, yaitu diasuh oleh pribadi dan istrinya di rumah dengan pengawasan sepenuhnya, tidak mengenal sistem klasifikal, dan sebagainya. Hanya materi pelajaran yang diberikan oleh Haji Agus Salim berbeda dengan yang disampaikan di Pesantren, demikian pula dalam sikap dan cara berpikirnya. Haji Agus Salim lebih menonjol dalam sikap hidup modern, menggunakan bahasa Belanda dan lain-lainnya sebagai bahasa sehari-harinya, sedangkan di pesantren tidak. Walaupun Haji Agus Salim mempunya perbedaan dengan sistem pendidikan yang ada dewasa itu, baik yang dikelola Pemerintah, Muhammadiyah, maupun oleh ulama dengan pondok pesantrennya, dan lain-lainnya, tetapi usaha yang dilakukannya diakui oleh orang-orang yang sezaman sebagai yang tidak ada duanya. Itulah salah satu kelebihan yang ada pada diri Haji Agus Salim. [tts]

sumber: merdeka.com

News Feed