by

5 Sindiran balik Haji Agus Salim yang bikin malu penyerangnya

Print Friendly, PDF & Email

Merdeka.com – Kecerdasan otak Haji Agus Salim yang luar biasa diakui oleh gurunya yang juga oleh sarjana-sarjana Belanda. Bahkan menurut ramalan-ramalan gurunya, kelak kemudian hari Agus Salim menjadi orang penting bagi bangsanya Indonesia. Selain amat cerdas, Haji Agus Salim juga dikenal amat lucu, atau witty dalam istilah Bung Karno .

Perpaduan kecerdasan dan kelucuan Haji Agus Salim memunculkan banyak cerita tentang kemampuannya membalikkan serangan pihak-pihak yang ingin menjatuhkannya. Serangan balik itu dilancarkan oleh pria kelahiran Kota Gadang, Sumatera Barat itu dengan cara yang ringan tetapi tajam. Secara tak terasa, lawan yang ingin menjatuhkannya seperti tertusuk. Inilah 5 cerita serangan balik Haji Agus Salim yang bikin lawan merah padam mukanya. Cerita ini dikutip merdeka.com dari berbagai sumber, termasuk buku Seratus Tahun Haji Agus Salim dan buku Tokoh-tokoh Pemikir Paham Kebangsaan:

Biar makan kerikil

Sampai tahun 1920, Haji Agus Salim selalu berpindah-pindah pekerjaan, seperti dari Indonesische Drukkerij (1915-1917) kemudian menjadi Hoofd-redacteur untuk bahasa Melayu pada Komisi Bacaan Rakyat yang berganti nama menjadi Balai Pustaka, selanjutnya pindah lagi ke Bataviasche Nieuwsblad, suatu kantor persuratkabaran dan lain-lain. Meskipun sampai tahun 1934 beliau masih mau bekerja untuk Balai Pustaka (karya terjemahan terakhir adalah, “Tjerita Mowgli Anak Didikan Rimba” oleh Rudyard Kliping), tetapi tidak pernah menetap lama-lama dalam suatu tempat pekerjaan.

Karena kecerdasannya, suatu ketika Haji Agus Salim mendapat tawaran kerja dari pemerintah untuk menjadi pejabat inspektur pajak di Banjarmasin. Sebenarnya tawaran itu menggiurkan untuk mengangkat ekonomi keluarga Haji Agus Salim. Tetapi, Haji Agus Salim tak mau intelektualitasnya digadaikan untuk melawan bangsanya sendiri. Tawaran itupun ditolaknya. Mau tahu kalimat penolakannya? “Biar makan kerikil, daripada saya menerima tawaran Belanda,” kata Haji Agus Salim. Sosok yang menawari menjadi tertohok.

Kupers jadi malu sendiri

Sampai tahun 1936, Haji Agus Salim lebih banyak bekerja sebagi pengasuh surat kabar. Dia adalah wartawan yang tulisannya sangat bernas dan kritis. Kariernya di dunia jurnalistik di antaranya menjadi redaksi bersama Abdul Muis dari “de Inlandsche Evolutie” (1917). redaktur “Neraca”, redaktur “Buruh Bergerak” terbit di Yogyakarta tahun 1920, redaktur “Suara Bumi Putera” (1922), redaktur “Dunia Islam” (1922-1923) terbit di Jakarta, juga bersama Tjokroaminoto menerbitkan surat kabar “Fadjar Asia” (1927-1930), redaktur “Mustika” terbit di Yogyakarta tahun 1931-1932, dan sampai tahun 1936 di samping membuka sebuah kantor AIPO (Advies en Informartie Bureau Penerangan Umum), juga menjadi redaktur majalah “Pergerakan” yang terbit di Jakarta.

BACA JUGA:   Sandiaga Sebut 9,7 Juta Orang RI Kini Menganggur

Pada tahun 1930, Haji Agus Salim diminta oleh Kupers, yaitu pimpinan perkumpulan Sarekat Sekerja Sosialis Belanda (NVV) untuk turut menghadiri sidang Biro International Perburuhan di Jenewa, Swiss. Sesampainya di tempat sidang, Kupers meminta teks pidato yang akan disampaikan oleh Haji Agus Salim guna diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis. Tetapi dijawab oleh Haji Agus Salim. “Tidak usah diterjemahkan.” Kupers pun bertanya, “Kenapa?”. Dijawab lagi; “sebab saya mau bicara dalam bahasa Prancis”. Kupers pun jadi malu sendiri. Anekdot seperti ini sering terjadi bila lawan bicaranya mempunyai maksud-maksud untuk memperdaya dirinya.

Konsul Belanda jadi malu

Dalam berbagai kesempatan, Haji Agus Salim menjadi penasehat ahli dalam soal-soal ke-Islaman. Bagi diri Agus Salim merupakan suatu kesempatan untuk memperdalam tentang sejarah Islam, hukum Islam, dan mendalami kembali Alquran dan lain-lain. Seperti dikatakannya ketika sedang berada di Cornell University di Ithaca pada tahun 1953 yaitu : “Saya menjadi penasehat soal-soal Ke Islaman pada perhimpunan Muhammadiyah, juga pada Al-Irsyad, dalam Sarekat Islam serta pada perkumpulan pemuda pelajar Islam (JIB).

Haji Agus Salim sangat fasih berbahasa Arab. Pemahamannya terhadap Islam dan kemampuannya berbahasa Arab tak lepas dari masa mudanya yang pernah dijalani di Jeddah (1906-1911). Pada saat di Jeddah itu ada dialog yang membuat atasannya konsul Belanda seperti tertohok. Ketika terjadi suatu pertukaran pikiran, atasannya menyindirkan demikian: “Salim, apakah engkau kira bahwa engkau ini seorang yang paling pinter di dunia ini?”. Dengan tangkas dijawabnya: “Itu sama sekali tidak. Banyak orang yang lebih pinter dari saya, cuma saya belum bertemu dengan seorang di antara mereka”.

BACA JUGA:   Soekarno: Negarawan yang Seniman

Belanda Bergmeyer tertohok

Haji Agus Salim pernah aktif sebagai anggota Volksraad pada kurun 1921-1923 menggantikan Tjokroaminoto mewakili PSII. Saat menjadi anggota Volksraad pertama kali menggunakan bahasa Indonesia. Haji Agus Salim lebih sering bertindak sebagai oposisi di Volksraad atau Dewan Rakyat. Suatu ketika Haji Agus Salim berpidato dengan menggunakan bahasa Indonesia (dulu Melayu).

Di dalam pidato tersebut ada perkataan “ekonomi”. Kemudian ditanya oleh Bergmeyer (wakil dari Zending di Volksraad): “Apa kata ekonomi dalam bahasa Melayu?” sambil mengejek kepada salim. Dijawabnya “Coba tuan sebutkan apa Belandanya”. Dalam bahasa Belanda istilah ekonomi tidak ada. Bergmeyer pun tertohok.

Musso terdiam

Dalam sebuah rapat Sarekat Islam (SI), Haji Agus Salim saling ejek dengan Musso, tokoh SI yang belakangan menjadi orang penting dalam Partai Komunis Indonesia. Saat itu, SI memang terbelah antara SI Putih dan SI Merah yang berhaluan pada faham-faham komunisme. Haji Agus Salim menjadi motor SI Putih, sementara Musso di SI Merah.

Pada awalnya Muso memulai ejekan itu ketika berada di podium. “Saudara saudara, orang yang berjanggut itu seperti apa?”

“Kambing!” jawab hadirin.

“Lalu, orang yang berkumis itu seperti apa”

“Kucing!”

Haji Agus Salim sadar sedang menjadi sasaran ejekan Musso. Haji Agus Salim memang memelihara jenggot dan kumis. Begitu gilirannya berpidato tiba, dia tak mau kalah.”Saudara-saudara, orang yang tidak berkumis dan tidak berjanggut itu seperti apa?” Hadirin berteriak riuh, “Anjing!”

Agus Salim tersenyum, puas, lalu melanjutkan pidatonya. [tts]

sumber: merdeka.com

News Feed