by

Mengintip debat puisi Bung Karno dengan Haji Agus Salim

Print Friendly, PDF & Email

Merdeka.com – Musim kampanye Pemilu 2014 marak dengan serangan lewat puisi. Aroma politis meruap dari rajutan kata-kata yang diberi dalih sebagai politik bermoral tinggi.

Salah satu sajak yang berisi sindiran terhadap PDIP dan Joko Widodo saat berkampanye dibuat oleh Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon . Judulnya Airmata Buaya:

Kau bicara kejujuran sambil berdusta

Kau bicara kesederhanaan sambil shopping di Singapura

Kau bicara nasionalisme sambil jual aset negara

Kau bicara kedamaian sambil memupuk dendam

Kau bicara anti korupsi sambil menjarah setiap celah

Kau bicara persatuan sambil memecah belah

Kau bicara demokrasi ternyata untuk kepentingan pribadi

Kau bicara kemiskinan di tengah harta bergelimpangan

Kau bicara nasib rakyat sambil pura-pura menderita

Kau bicara pengkhianatan sambil berbuat yang sama

Kau bicara seolah dari hati sambil menitikkan air mata

Air mata buaya

Sajak Fadli Zon itu berbalas lewat puisi yang dibuat oleh ontelektual muda PDI Perjuangan ( PDIP ) Fahmi Habcy. Dia membuat puisi balasan untuk capres Partai Gerindra Prabowo Subianto dan kadernya, Fadli Zon . Fahmi mengatakan akan melelang dua buah sajak hasil karyanya berjudul “Pemimpin Tanpa Kuda” dan “Rempong”. Ini salah satu puisinya, “Pemimpin Tanpa Kuda”:

Masa kompeni telah berlalu lama

Tak ada jarak rakyat dan centeng

Masa perang telah berganti damai

Tak ada jarak prajurit dan panglima

Masa gagah-gagahan telah tak laku

Tak ada jarak manusia dan manusia

Kejantanan telah berubah

Tak ada amarah dipunggung kuda

Bung Karno blusuk Cipagalo beralas nestapa

Temukan Marhaen tanpa asa

Pemimpin tak perlu kuda

Rakyat tak suka gaya

Cukup Tuhan Punya Kuasa

Debat lewat puisi bukan barang baru dalam percaturan politik negeri ini. Hampir mirip tradisi berbalas santun, debat lewat puisi dinilai bisa mengendorkan urat syaraf. Para Bapak Bangsa seperti Bung Karno dan Haji Agus Salim juga pernah berdebat lewat puisi.

BACA JUGA:   Di Bandung, Kongres Sarekat Islam Merah Digelar

Pada akhir 1920-an, nasionalisme berkobar di bumi Indonesia meskipun masih dalam jajahan Belanda. Bung Karno sebagai nasionalis menggambar cinta kebangsaan didorong oleh cinta tanah air, oleh kecintaan kepada birunya gunung dan moleknya ladang. Bung Karno pun membuat puisi:

Ibumu Indonesia teramat cantik.

Cantik langitnya dan buminya, cantik gunungnya dan rimbanya, cantik lautnya dan sungainya, cantik sawah dan ladangnya, cantik gurunnya dan padangnya.

Hawanya yang terlebih baik, terlebih sehat dan terlebih sejuk bagi kamu.

Ibumu Indonesia teramat baik. Airnya yang kamu minum, nasinya yang kamu makan.

Ibumu Indonesia teramat kaya. Buminya hanya minta ditegur, maka menghasilkan ia macam-macam kekayaan dan keperluan dunia, hanya minta diasuh dipelihara sedikit, akan menimbulkan dan menumbuhkan pelbagai hasil keperluan hidup.

Ibumu Indonesia teramat kuat dan sentosa.

Dari dulu ia melahirkan pujangga, pahlawan dan pendekar.

Dan sekarang ini pun dalam zaman susah dan sukar serta sempit hidupnya ini tak pernah behenti juga ia melahirkan putra-putra yang cakap-cakap, gagah berani.

Maka tidak lebih dari wajibmu apabila kamu memperhambakan, membudakkan dirimu kepada Ibumu Indonesia, menjadi putra yang mengikhlaskan setiamu kepadanya.

Nasionalisme Bung Karno ditolak keras Haji Agus Salim . Mereka berdebat sengit lewat tulisan. Bagi Haji Agus Salim dari golongan Islam, nasionalisme itu karena Allah Ta’ala. Nasionalisme seperti ini tidak peduli apakah tanah air cantik, molek atau tidak. Haji Agus Salim pun berpuisi dengan judul “Tanah Air Kita”:

BACA JUGA:   Sandiaga Bakal Ngajar di Program Kartu Prakerja

Apa keikatan kita?

Menyebuahkan usaha

Menjadi azas utama

Pada tujuan mulia

Tujuan kita yang sama

Meninggikan derajat Indonesia

Begitulah cerita tentang debat puisi. Keempat puisi di atas dibuat dalam konteks debat dan adu pandangan. Pembaca merdeka.com bebas untuk menilai, manakah debat puisi yang lebih indah dan cerdas. Pembaca juga bebas menilai, manakah puisi yang adiluhung, serta paling penting memenuhi syarat sesuai definisi puisi: gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus.

Silakan berkomentar.

(Puisi Bung Karno dan Haji Agus Salim dikutip dari buku Seratus Tahun Haji Agus Salim[tts]

sumber: merdeka.com

News Feed