by

Inilah Surat Akil Mochtar ke MK

JAKARTA (Pos Kota) – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar berkirim surat tentang proses hukum yang menimpanya. Surat yang ditulis tangan itu diterima MK, Sabtu (5/10).

“Ya benar, MK sudah terima surat dari Pak Akil, Sabtu dan telah diserahkan ke Majelis Kehormatan Mahkamah,” aku Wakil Ketua MK Hamdan Zoelva kepada wartawan di MK, Senin.

Dia menjelaskan penyerahan surat ke Majelis Kehormatan Mahkamah, Sabtu malam terkait keanggotaan di MK, setelah dibuka dan dibacakan di hadapan anggota hakim konstitusi.

“Jadi tergantung kepada majelis, sebab surat sudah diserahkan kepada majelis, yang dipimpin hakim konstitusi Harjono dengan sekretaris Hikmahanto Juwana,”ujar Hamdam Zoelva

Dalam surat tersebut, pria yang dilahirkan 53 tahun lalu di Putussibau, Kalbar menyampaikan pengundurannya sebagai Ketua MK serta memohon maaf kepada seluruh hakim konstitusi dan jajaran MK lainnya.

Dalam surat tersebut, ia menepis semua tuduhan KPK terkait dugaan suap dari anggota Komisi II DPR Chairun Nisa dan pengusaha Cornelis. Surat ini ditulis dengan tangan di Rutan KPK lalu dikirim melalui kurir dan diteruskan ke KPK.

Berikut surat yang beredar di kalangan wartawan.

‎‎‎Jakarta, 3 Oct 2013
‎‎‎
Kepada Yth/ yang mulia Bpk/ibu hakim konstitusi

BACA JUGA:   Mantan Rektor UGM Disomasi Karena Sindir 11 Fraksi MPR Dapat Uang Berkarung-karung

Ass. Wr Wb

1. Saya mohon maaf kepada Bpk/ibu hakim konstitusi dan kpd seluruh staf dan karyawan MK.

2. Sejak tanggal surat ini saya mengundurkan diri sebagai hakim MK.

3. Walau tidak untuk dipercaya atau tidak perlu percaya kepada saya, kiranya saya perlu menjelaskan kejadian yg sebenarnya;

A. Rabu malam saya baru sampai di rumah sekitar jam 8 lewat, mandi ganti pakaian dan berbicara dengan istri, saya diberitahu ada tamu oleh penjaga rumah kediaman. Saya menuju ke pintu mau membuka pintu lalu ada ketukan, dan pintu saya buka, dan ada petugas dari KPK memperkenalkan diri dengan mengatakan ada dua orang lagi duduk di teras halaman depan, dan diminta menyaksikan lalu saya hanya kenal dengan Chairun Nisa, yang pernah SMS beberapa waktu lalu mau bertamu ke rumah, saya jawab dengan SMS, silahkan tapi jangan malam-malam karena saya ngantuk.

Ketika saya menyaksikan kedua orang itu digeledah, dari laki-laki yang tidak saya kenal itu didapati beberapa amplop, sedangkan dari Chairun Nisa hanya didapati beberapa buah HP. Sedangkan satu orang lagi laki-laki, saya tidak pernah melihat katanya menunggu di mobil.

BACA JUGA:   Dubes Saudi Arabia di Jakarta dan Jusuf Kalla menghadiri Penganugerahan Doktor Honoris Causa kepada Sekjen Rabithah Alam Islamy di UIN Malang

Saya merasa saya tidak pernah tertangkap tangan! Selanjutnya saya diminta ke kantor KPK untuk menjelaskan kejadian itu yang terjadi di teras rumah saya itu. Saya tidak tahu latar belakang kejadian. Saya tidak pernah meminta uang atau janji sepeserpun! Yang kemudian saya ditetapkan sebagai tersangka.

Banyak saksi kejadian itu, ajudan, petugas jaga dari kepolisian dan security. Kalau kaitannya dengan pilkada Gunung Mas silahkan diamati rekaman sidang, 2 hakim anggota, 1 panitera pengganti dan panitera. Bagaimana pengambilan keputusan perkara dimaksud. Semua berlangsung sesuai prosedur dan tidak ada satupun dipengaruhi oleh saya.

B. Pilkada Lebak : Saya lebih tidak mengerti lagi karena sudah diputus, sudah dibacakan putusan, semua proses sidang pengambilan keputusan semua dilakukan dengan musyawarah mufakat, tidak ada sama sekali saya menginteruksi, ada PP (Panitera Pengganti) dan panitera yang menyaksikan proses musyawarah tsb.

Katanya ada SMS dari pengacara Susy kepada saya meminta dibantu perkara tersebut. Saya tidak pernah meminta meminta uang atau janji dari perkara tersebut, tapi saya dijadikan tersangka. (ahí)

Akil Mochtar

sumber: poskotanews.com

News Feed